IMAGE WISATA BANYUWANGI (1)

Oleh : Gempur Santoso

Redaksi 71 Kali Dilihat 0 Komentar

IMAGE WISATA BANYUWANGI (1)

Swaranews.com - Mungkin image pikiran saya berlebihan. Terus terang saat diajak ke Banyuwangi. Image saya ke daerah wisata.

Sebelumnya, sampai saat ini, kalau ke kota Batu, Trawas, Pulau Dewata Bali terasa akan berwisata. Menyenangkan.

Terasa dingin, sejuk. Terkesan daerah wisata. Walau tidak semua daerah dingin sejuk mengesankan daerah wisata.

Banyuwangi. Image saya banyak kesenian. Itu semenjak saya tinggal di Sidoarjo. Sering mendengar beberapa lagu Banyuwangi. Diiringi musik tradisional irama rancak.

Begitu pula saat melihat tarian Banyuwangi. Di televisi atau di video. Penari Banyuwangi terkesan tradisional. Rancak. Membuat semangat.

Pagi hari ini. Saya di Banyuwangi. Subuh. Terdengar Adzan dan setelahnya suara ngaji. Bersautan. Sholat. Setelah ini, kicau burung liar. Kayaknya banyak. Puluhan burung berkicau. Bersautan. _Dan, mengesankan, ada suara peringatan Imsak waktu sholat subuh akan berakhir. Kurang sekian semenit.

Padahal di Banyuwangi ini. Masih pagi petang. Belum nonton tarian maupun suara musiknya. Image saya tetap, Banyuwangi kota wisata.

Kami nginep (singgah) di kota ini. Sekitar pukul sepuluh pagi. Menuju laut merah. Sekitar tiga puluh kilometer arah barat selatan. Sampai pantai selatan.

Dalam perjalanan. Sangat terasa, ini daerah wisata. Mengapa? Banyak rumah tanpa pagar halaman. Hampir semua rumah ada halaman dan kebun. Ditanami tanaman produktif. Ada juga ditanami bunga. Bersih. Indah. _Persawahan. Pertanian. Banyak sekali kebun: buah naga, jeruk, pepaya, dan lain - lain.

Ada juga yang menanam tumpang sari (campur). Brambang bersamaan buah naga. Cabe bersama polowijo lainnya. Ada pula pertanian menanam padi. Di galengannya (pematang) ditanami buah naga. Dan lain lain.

Hujan terus menerus ricih-ricih. Dingin. Tanah menjadi basah. Tidak becek. _Jalanan aspal, ada juga yang di cor semen. Ada yang rusak. Ada pula yang dalam proses pembangunan. 

Di perkampungan dekat laut merah itu. Teman saya bertempat tinggal. Kami ketemu (silaturahim) dengannya di rumah makan tepi pantai.

Teman saya itu bernama Slamet. Dulu juga bersama kami di RDI. Kini Slamet bertani buah naga. Punya lahan sekitar satu hektar.

Menurutnya. Ia sekali panen bisa sekitar 13 ton hingga 16 ton. Setahun bisa panen 4 kali.

Memiliki metode penanaman buah naga. Pemupukan. Membuat pupuk sendiri. Pupuk fermentasi. Dulu diajari orang Thailand.

Kebun buah naganya diberi lampu. Sinar lampu sejenis lampu led dop. Dipasang pada setiap pohon. Di atasnya diberi lembaran kecil sejenis plat atau plastik. Lampu itu untuk buah naga biar baik. Lampu dinyalakan ketika tidak muncul matahari.

Slamet dibantu seorang pekerja. Untuk merawat tanaman buah naganya. Kini rencana menambah lahan. Akan menanam pohon jengkol.

Kata teman saya itu. Penopang utama ekonomi rumah tangga. Berkembang dari berkebun/bertani buah naga. Sukses.

Banyuwangi daerah seni. Walau saat berwisata ini tidak mendengar musik juga tidak melihat tari Banyuwangi. Tampak tanahnya subur. Banyak tempat berwisata. Berjauhan. Tetap di wilayah Banyuwangi. Mengasyikkan. (GeSa)

Tinggalkan Komentar