Punggawa Kota Surabaya Kompak Mainkan Peran Wayang Sejarah

Sumpah Merah Putih "Gayatri Rajapatni”

Redaksi 115 Kali Dilihat 0 Komentar

Punggawa Kota Surabaya Kompak Mainkan Peran Wayang Sejarah

Swaranews.com - Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Surabaya terlihat kompak memainkan peran dalam pagelaran Wayang Sejarah Sumpah Merah Putih "Gayatri Rajapatni”, Senin (8/11/2021) malam.

Pagelaran seni dan budaya yang berlangsung di Tugu Pahlawan Surabaya itu merupakan rangkaian dari Surabaya Art & Culture Festival (SACF) 2021. Pagelaran itu disiarkan langsung secara virtual atau live Instagram dan streaming Youtube.

Pertunjukan ini sekaligus menjadi rangkaian Peringatan Hari Sumpah Pemuda, Hari Wayang Dunia, dan Pekan Budaya Nasional.

Dalam pertunjukan ini, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memainkan peran sebagai Mahapatih Gajah Mada, lengkap dengan memakai busana ala kerajaan.

Sedangkan Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji sebagai pemuda nusantara yang membacakan teks Sumpah Pemuda dengan memakai pakaian khas Cak Suroboyo.

Kemudian, Ketua DPRD Surabaya Adi Sutarwijono sebagai Prapanca, yang bertugas membacakan prolog atau alur cerita.

Tak hanya pucuk pimpinan di lingkup pemkot dan DPRD Surabaya yang memainkan peran dalam pagelaran seni dan budaya itu. Sebab, Forkopimda Kota Surabaya juga turut serta menjadi bagian dalam pertunjukkan. Mulai dari Komandan Korem (Danrem) 084/Bhaskara Jaya, Brigjen TNI Herman Hidayat Eko Atmojo yang memainkan peran sebagai Cak Mandala.

Kemudian, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Akhmad Yusep Gunawan sebagai Cak Slamet dan Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Anton Elfrino Trisanto berperan sebagai Cak Sugeng. Sementara Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Surabaya Anton Delianto sebagai Cak Untung, dan Kajari Tanjung Perak I Ketut Kasna Dedi sebagai Cak Bejo.

Suasana di Tugu Pahlawan malam itu tampak berbeda. Temaram dan bintang, seakan menjadi saksi bisu punggawa Kota Surabaya memainkan peran tokoh pewayangan. Warna-warni lampu lighting dengan iringan karawitan, makin menambah sakral atmosfer pertunjukkan.

"Sira Gajah Mada patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa," gelegar suara Wali Kota Eri membacakan Amukti Palapa.

Setelah Wali Kota Eri Cahyadi membacakan Amukti Palapa, Wawali Surabaya, Armuji kemudian meneruskannya dengan membaca teks Sumpah Pemuda. Meski dua sumpah itu berbeda zaman, namun memiliki makna dan filosofi yang sama. Yakni, persatuan dan kesatuan nusantara.

Pada pertunjukan itu, Punggawa Kota Surabaya juga menyelipkan beberapa pesan kepada masyarakat. Seperti di antaranya pentingnya menjaga protokol kesehatan dan tepo seliro. Pesan dan imbauan yang disampaikan itu pun dibalut dengan guyonan khas ala Suroboyoan.

Menjelang akhir pertunjukkan, Wali Kota Eri Cahyadi kemudian membacakan puisi berjudul Sumpah Merah Putih. Gelegar suara Wali Kota Eri seakan membuat suasana merinding panggung pertunjukan.

"Biarpun bumi bergoncang, rembulan dan bintang matahari mengoyak langit, kami bangsa Indonesia bersumpah Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia. Tak sebilah pedang yang tajam, membelah dadaku, kami yang beraneka warna warni budaya, bertekad ragam budaya dalam Tunggal Ika, di bawah kibaran satu bendera merah putih," kata Wali Kota Eri dengan suaranya yang lantang.

Melalui Surabaya Art & Culture Festival (SACF) 2021 tersebut, Wali Kota Eri mengaku ingin menggerakkan sektor ekonomi di bidang seni dan budaya. Hal ini seiring dengan melandainya kasus Covid-19 di Surabaya.

"Jadi seni yang selama pandemi tidak bisa bergerak, hari ini kita coba gerakkan," ujarnya. Namun, ia memastikan, pagelaran ini tak berhenti sampai di sini. Sebab ke depan, pihaknya telah menyiapkan beberapa event lain yang bertujuan untuk menggerakkan perekonomian khususnya bagi pelaku seni dan budaya.

"Insya allah nanti kita akan tata di Balai Pemuda yang jumlah penontonnya kita akan batasi yang masuk ke dalam. Jadi ini adalah awal mulai pergerakan seni. Sambil nanti berjalan dengan Jalan Tunjungan, yang di sana juga nanti akan ada seni-seni juga, termasuk UMKM di sana," ungkap dia.

Mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Kota Surabaya itu menyatakan, bahwa pasca melandainya kasus Covid-19, sudah waktunya seluruh sektor ekonomi digerakkan.

"Inilah perkembangan yang kita lakukan. Jadi ini menunjukkan sekarang bahwa setelah pandemi, ekonomi yang harus kita gerakkan," tegasnya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya, Antiek Sugiharti menyampaikan, Wayang Sejarah Sumpah Merah Putih "Gayatri Rajapatni” merupakan rangkaian dari Surabaya Art & Culture Festival (SACF) 2021. Pagelaran ini sebelumnya diawali dengan pemutaran film Arek Suroboyo pada waktu refleksi perobekan Bendera Merah Putih Biru.

"Dan di antaranya itu setiap minggu kita ada tampilan 2-3 kali melalui streaming seluruh aktivitas kesenian. Mulai dari musik, tari, ludruk hingga jaranan," kata Antiek.

Ia mengaku, memang ada beberapa pagelaran besar yang menjadi event kolosal. Seperti sebelumnya pertunjukan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 2021. Namun demikian,

Antiek menyatakan ke depan tentu masih ada beberapa event menarik yang patut untuk kembali disaksikan.

"Jadi nanti masih ada event-event yang lain sampai bulan Desember. Jadi masih ada tayangan-tayangan banyak yang nanti akan menghadirkan bintang-bintang tamu yang akan menjadi kejutan siapa berikut-berikutnya," pungkasnya. (mar)

Tinggalkan Komentar