KEBIJAKAN CORONA

Oleh: Prof DR Gempur Santoso, M.Kes

Redaksi 256 Kali Dilihat 0 Komentar

KEBIJAKAN CORONA

Swaranews.com - SEMUA orang pasti butuh makan. Semua orang ingin umur panjang. Bahkan bertanggung jawab kepada istri dan anak anaknya selalu makan cukup dan sehat.

Banyak orang bekerja resiko tinggi. Semua itu untuk "sesuap nasi".

Dulu, tetangga saya meninggal dunia, karena kesetrum. Ada yg kestrum las listrik dari atas atap dan jatuh. Ada yang kesetrum saat kerja poles tekel lantai.

Rakyat, selalu patuh pemimpin. Patuh pada aturannya atau kebijakannya. Oleh karena itu, rakyat bisa mati atau hidup, miskin atau kaya, tergantung kebijakan. Syukur kebijakannya membuat bisa adil, makmur dan merata.

Harapannya. Rakyat butuh pemimpin bijaksana dan berdaulat. Dulu, saat pemilu langsung (pilsung) 1 hari selesai.

Ternyata yang meninggal dunia sebesar 894 orang (Kompas). Tentu akan beda jumlah yg meninggal dunia kalau pilsung 2 hari. Di buat 1 hari, atau 2 hari, atau lainnya yang punya hak adalah pemerintah.

Rakyat ikut saja dan menanggung resiko. Bagaimana dengan kebijakan pemerintah? Terkait virus Corana atau Covid-19. Biasa sajakah? PSBB (pebatasan sosial berskala besar), atau lockdown.

Lebih serem mana virus Coronanya atau pelaksanaan kebijikannya? Surabaya, Sidoarjo dan Gresik terkena kebijakan PSBB. Kita lihat saja nanti. Sebelum dan sesudah PSBB.

Apakah ada gunanya? Apakah ada hasilnya? Jangan sampai semua terkait sakit penafasan (mukosal) disebut kena virus corona.

Semua sehat dan tidak kekurangan pangan...amiin.

(Gesa)

Guru Besar Unipa Adi Buana Surabaya Managing Director APENSO (Asosiasi Prndidikan & Sosial) Penasehat Swaranews

Tinggalkan Komentar