PSBB Sudah Cukup, Usaha Warga Kembali Normal

Oleh : Sugianto S. Hartawan *)

Redaksi 156 Kali Dilihat 0 Komentar

PSBB Sudah Cukup, Usaha Warga Kembali Normal

Sugianto S. Hartawan

Swaranews.com - HARI HARI ini adalah hari hari keprihatinan. Prihatin karena ada wabah pandemi Covit-19. Prihatin karena banyak warga diputus hubungan kerjanya; gajinya dipotong hingga 50%; sementara selama dirumahkan tidak dibayar gajinya.

PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang diterapkan di Surabaya Raya (Kota Surabaya, kab Sidoarjo, Kab Gresik) sudah hampir berakhir. Dikabarkan bahwa dalam dekat akan diterapkan PSBB periode ke 2, ada kemungkinan besar diperpanjang jangka waktunya melihat perkembangan pasien yang terjangkit Covit-19 grafiknya meningkat. Apa jadinya PSBB diperpanjang 14 hari lagi?

Jujur, penyaluran bantuan dari pemerintah baik itu sembako maupun uang tunai 600ribu yang sudah disalurkan menyisakan keluhan warga yang belum terima.

Ada yang sudah daftar belum juga terima. Ada yang sudah meninggal dunia masih terdaftar. Yang betul betul membutuhkan belum terima. Sedangkan mereka yang diketahui tetangga sebelah berkemampuan justru menerima bantuan. Jelas menimbulkan kecemburuan.

RT/RW sampai kelurahan sudah mendata warga miskin dan menyalurkan bantuan. Semoga tepat sasaran, tidak meleset lagi. Yang tidak terdaftar boleh mendaftarkan diri lewat laman radar bansos. Semoga lancar daftarnya dan cepat direspon karena kebutuhan perut yang kelaparan tidak bisa menunggu birokrasi atau rumitnya administrasi.

Saya ingin cerita. Saya punya teman sejak kecil tinggal di Bandung. 2 tahun lalu beliau sakit harus dioperasi yang berakibat sempat lumpuh harus pake struk. Dengan semangat yang luar biasa berhasil sembuh dari lumpuhnya. Dlilalah, 2 bulan lalu ia jatuh berakibat tangannya patah harus dioperasi lagi.

Mungkin salah operasi, tangan kirinya masih bengkok belum sembuh total. Saat ini beraktivitas dengan satu tangan. Isterinya sejak 6 bulan lalu belum digaji perusahaan tempatnya bekerja. Punya 2 anak yang masih di SMA.

Dia sempat curhat di wa grup bahwa dia antre di gereja sejak pk. 05.30 untuk dapatkan sebungkus sembako berisikan beras 3 kg, gula 1 kg, mie instant 3 bungkus. Panitia kemudian tahu kalau teman saya ikut antre. Buru buru menghampiri," Bapak, bapak kan masih sakit nanti kami yang kirim ke rumah."

Panitia sungkan karena teman saya selama di gereja ini adalah aktivis yang rajin mencarikan donasi untuk mereka yang kekurangan. Kali kedua, kemarin pagi (Jumat 8/5/2020) ia tulis lagi di wa grup,

"Saya antre sembako lagi. Kali ini saya mau antre gak mau diantar kendati Romo datang memintanya nunggu di rumah saja. Kuatir dikira dapat dobel."

Dia jujur dan berterus terang butuh sembako untuk makan sehari hari. Teman temannya yang juga temanku sempat guyonin teman ini," Badanmu segede gajah mana mungkin orang percaya kamu gak bisa makan." Hadeuh.

Ketidakpercayaan tetangga atau orang yang kenal kita bahwa kita tidak punya beras dirumah buat makan, mungkin orang tidak percaya. S

Sama seperti wartawan saya bercerita, bahwa ada pejabat Pemkot tidak percaya kalau Pemred nya (yakni saya hehehe) banting setir berjualan keliling.

Tepatnya sih di warung mobil di pinggir jalan. Setelah buka kuliner sejak 2006, sejak tahun ini kondisinya semakin menurun diperparah saat memasuki pertengahan Maret omzet warung langsung nyungsep, akibat wabah pandemi Covit-19.

Akhirnya terdampar di warung mobil yang masih kredit ini (bulan Juni sudah harus bayar lagi). Yang penting bisa survive dan bertahan hidup. Apalagi saat masuk PSBB di Kota Surabaya. Kebijakan boleh buka usaha dengan syarat tidak boleh ada tempat duduk, lebih baik melayani take away alias dibawah pulang.

Boleh buka usaha namun kalau tidak ada orang yang datang membeli karena PSBB apalah artinya. Jujur saya katakan, hasil penjualan setiap hari dapat 100ribuan, sementara belanja setiap hari habis 150ribu. Kira kira berapa sisa hasil jualan ya? Anak saya yang kelas 3 SD pun bisa menghitungnya.

Tidak perlu seorang lulusan akuntansi apalagi harus seorang akuntan yang menghitungnya. Kita butuhkan kebijakan bunda Wali Kota Surabaya mrngopeni warganya. Kelaparan warganya pasti dirasakan bundanya.

Seorang saya, sama dengan ribuan orang yang kurang lebih sama seperti saya. Warga yang belum terdata pemerintah sudah pasti belum bisa memperoleh bantuan. Saya baru dapat secarik surat keterangan dari RT/RW bahwa usaha saya terdampak wabah pandemi Cobit-19.

Ini saya lampirkan buat pengajuan permohonan restrukturisasi KPR, dan alhamdullilah dapat keringanan 8 bulan. Sedangkan kredit otomotif dari leasing swasta dapat keringanan angsuran 3 bulan sudah harus bayar akhir Juni besok. Nyungsep, nyungsep.... Pake uang apa, cak? Pake daun tah?

Saya hanya bisa berdoa semoga situasi pandemi Covit-19 segera berakhir. Roda perekonomian kembali normal. Orang seperti saya sak-abreg-abreg berusaha di jalanan Surabaya, di pelosok kampung. Doanya sama. Semoga Surabaya kembali normal. Indonesia juga. 

*) Pemimpin Redaksi Swaranews.

Tinggalkan Komentar