Sidarto Danusubroto

Ideologi yang hidup dan Ideologi yang bekerja

Redaksi 94 Kali Dilihat 0 Komentar

Sidarto Danusubroto

Swaranews.com - Pengalaman hidup hingga usia 84 tahun mengabdi pada negara mulai dari presiden pertama RI Soekarno hingga Joko Widodo selama 2 periode. Perjalanan hidupnya memperkaya kebijakannya dalam memberikan pertimbangan kepada pemimpin bangsa. (Sugianto S Hartawan)

GERAKAN reformasi yang tergulung oleh derasnya eforia kebebasan mengakibatkan sebagian masyarakat tergelincir dalam perilaku kebablasan dan mengakibatkan terjadinya tindakan yg mengarah anarkis. Diberbagai daerah muncul sikap intoleran terhadap perbedaan yang dapat mengancam keutuhan NKRI. Padahal perbedaan itu sebenarnya sesuatu yang sangat indah bila dikelola dengan baik. Pelangi sangat indah justru karena menampilkan warna yang sangat beragam. Selain sikap intoleran, radikalisme juga marak terjadi di Indonesia. Pihak-pihak tertentu merasa diri paling benar sementara golongan lain dianggap 'kafir'. Kondisi ini jika tdk dikelola dgn baik dapat menjadi ancaman yang berbahaya bagi bangsa dan negara. Oleh sebab itu sangat penting utk terus memberikan pemahaman yg baik dan konferensif tentang nilai-nilai Pancasila kepada seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian masyarakat memiliki pondasi yang kokoh sehingga tidak gampang disusupi paham intoleran maupun radikalisme. Pancasila jangan-jangan hanya dijadikan ideologi dalam teori namun harus menjadi ideologi yang hidup (living and working ideology).

Inspektur Jenderal Polisi (Purn) Sidarto Danusubroto Pandeglang, 11 Juni 1936 

Pendidikan:

- Fakultas Ekonomi UI, 1955. - PTIK, September 1955.

- Seskopol, 1969-1970.

- International Police Academy, Virginia - AS, 1964. - Anti teror di Fort Bragg, AS, 1964.

- Sesko Gabungan, 1977.

Penghargaan:

- Bintang Mahaputra Adipradana dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 2014.

- Penghargaan dri MURI sebagai abdi negara terlama, 56 tahun, Agustus 2020.

Karir:

- Ajudan Presiden Soekarno, 6 Feb 196-Mei 1968.

- Kapolda Sumatra Selatan, 1986-1988.

- Kapolda Jawa Barat, 1988-1991. - Anggota DPR-RI 1999-2004, 2004-2009, 2009-2013.

- Ketua MPR RI, 8 Juni 2013-2014.

- Anggota Wantimpres, 2015-2019, 2019- sekarang.

Karya Tulis:

- Indonesia National Police, 1975/1976

- Seperempat Abad Interpol Indonesia 1977.

- Bicara dengan Sejarah, Damai Melalui Rekonsialiasi.

- Jalan Terjal Perubahan, 2016

Kisah Fenomenal Ketika Ia Membantu Soekarno Kabur Saat Soeharto Berkuasa (Dari cukilan buku “80 tahun Sidarto Danusubroto”)

INSPEKTUR Jenderal Polisi Drs. Sidarto Danusubroto, SH (84) kembali ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) akhir 2019 lalu.

Purnawirawan jenderal polisi itu terjun di dunia politik setelah tak lagi aktif di Korps Bhayangkara tahun 1991. Tahun 1999, politikus PDI Perjuangan itu mulai duduk di kursi parlemen selama kurang lebih 15 tahun. Pada 2013, setelah Taufiq Kiemas meninggal dunia, ia ditunjuk untuk menjabat sebagai Ketua MPR.

Dari buku “80 Tahun Sidarto Danusubroto, Jalan Terjal Perubahan, dari Ajudan Soekarno sampai Wantimpres Joko Widodo” terbitan Kompas tahun 2016, Sidarto dikenal memiliki kisah yang cukup fenomenal ketika ia membantu Soekarno kabur saat Soeharto berkuasa. Hal itu bermula setelah Soekarno tak lagi berkuasa. Seluruh gerak-geriknya diawasi. Bahkan, para pengawalnya pun diganti. Pada 16 Agustus 1967, Detasemen Kawal Pribadi (DKP) yang sebelumnya mengawal Soekarno digantikan tugasnya oleh Satuan Tugas Polisi Militer Angkatan Darat (Satgas Pomad). Pergantian itu bahkan sempat membuat Soekarno down.

"Karena Komandan DKP Ajun Komisaris Besar Polisi Mangil Martowidjojo sudah ditahan. Sudiyo dan beberapa perwira DKP bersama beberapa perwira Korps Komando Angkatan Laut/ sekarang Marinir (KKO), sekitar 15 orang mengadakan rapat-rapat untuk merancang rencana melarikan Bung Karno dari tahanan," tulis Sidarto.

Rapat itu mereka adakan di rumah seorang loyalis Soekarno, AKBP Oetoro, di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. "Mereka meminta saya hadir dalam pertemuan tersebut," ujar Sidarto.

Menurut Sidarto, mereka mengundang dirinya karena menganggap dia adalah ajudan yang dekat dengan Soekarno. Mereka pun menyampaikan pesan untuk Soekarno.

"Bilang pada Bapak, dari pada Bapak meninggal dalam keadaan tersiksa seperti ini, lebih baik sama-sama kita," lanjut Sidarto.

Sidarto pun merasa terkejut. Sebab, dia sama sekali tidak menyangka Soekarno bersedia dilarikan diri dari tahanan. Bahkan, Soekarno juga menyampaikan sebuah pesan.

"To, kalau terjadi apa-apa dengan saya, beri tahu Mega," kenang Sidarto menirukan ucapan Soekarno.

Menurut Sidarto, Megawati Soekarnoputri pun pada akhirnya mengetahui rencana ini. Sayang, rencana tersebut akhirnya terbongkar karena satu hal.

"Rencana melarikan Bung Karno terbongkar karena saya rasa yang mendengar konspirasi ini cukup banyak sehingga mudah tercium aparat intelijen," kata Sidarto.

Akibatnya, Sidarto pun diinterogasi selama empat tahun oleh Tim Screening Kepolisian Pusat (Tenning Polsat), dan Tim Pemeriksa Pusat (Teperpu). Sidarto dianggap sebagai penghubung Soekarno.

"Setiap ditanya tentang rencana ini, saya selalu membantah pernah lapor kepada Bung Karno. Saya ikut rapat dua kali dengan mereka karena solidaritas saja," kata Sidarto.

Daftar nama sembilan anggota Wantimpres periode 2019-2024 tersebut adalah: 1. Wiranto 2. Agung Laksono (Politikus Golkar) 3. Arifin Panigoro (Pengusaha/Pendiri Medco Group) 4. Soekarwo (Eks Gubernur Jatim/Mantan politikus Demokrat/Komisaris Utama PT Semen Indonesia) 5. Sidarto Danusubroto (Politikus PDIP) 6. Mardiono Bakar (Politikus PPP) 7. Dato Sri Tahir (Pengusaha/Pendiri Mayapada Group) 8. Putri Kuswinu Wardani (Pengusaha/Komisaris Utama PT Mustika Ratu) 9. Habib Lutfi bin Yahya (Ulama/Rais ‘Aam Idaroh Aliyah Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdliyyah)..,

Tinggalkan Komentar