Cermin yang Berjalan Pulang

Sambang Putu

Reporter : Amar
Ilustrasi

Swaranews.com - Besut Jajah Deso Milangkori kini sampai pada satu episode yang sering dianggap sederhana, tapi justru paling mengguncang batin: *sambang putu*—menjenguk cucu. Bukan sekadar kunjungan keluarga, melainkan perjalanan pulang ke dalam diri yang pernah muda, pernah keras kepala, pernah jatuh cinta pada hidup tanpa banyak tanya.

Di tubuh seorang cucu, seorang kakek atau nenek seperti sedang bercermin. Tapi cerminnya hidup—berlari, tertawa, kadang bandel, kadang diam seperti menyimpan rahasia semesta. Di situ, masa lalu tidak lagi berupa kenangan yang usang, melainkan hadir kembali dalam bentuk yang segar, nakal, dan kadang lebih berani. Cucu menjadi potreit berlapis: wajah kakek, denyut nenek, jejak anak, dan cerita menantu—semuanya menumpuk dalam satu tubuh kecil yang terus tumbuh.

Baca juga: Bangunan Cagar Budaya Harusnya Dijadikan Penanda Sejarah

Maka jangan heran, jika rindu kepada cucu sering kali lebih nyaring daripada rindu kepada anak sendiri. Karena pada cuculah, rasa itu tidak hanya tentang kasih, tapi juga tentang perjumpaan ulang dengan diri. Sebuah nostalgia yang tidak melankolis, tapi justru penuh energi baru. Seperti menemukan kembali mainan lama, tapi kali ini dimainkan dengan kesadaran yang lebih dalam.

Ada yang menarik ketika cucu mulai menunjukkan bakat—gerak tubuh yang luwes, cara bicara yang khas, atau bahkan selera jenaka yang tak jauh dari garis leluhur. Di situlah, seorang kakek atau nenek seperti melihat revolusi kecil sedang berlangsung. Bukan revolusi yang gaduh, tapi yang halus: perpindahan jiwa, kesinambungan rasa, dan keberanian untuk tetap hidup melalui generasi berikutnya.

Baca juga: Surabaya Gelar Ruwatan Kota Libatkan Ratusan Seniman dan Budayawan

Dalam kacamata Besut, sambang putu bukan sekadar adegan keluarga. Ia adalah filosofi tentang kesinambungan. Tentang bagaimana manusia tidak pernah benar-benar selesai, karena ia terus berlanjut dalam bentuk lain. Cucu menjadi “suplemen jiwa”—vitamin batin bagi para kakek dan nenek untuk menyongsong senja tanpa kehilangan cahaya.

Dan di Sanggar Ilalang Nganjuk nanti, episode ini akan hadir bukan sebagai cerita haru semata. Ia akan dibungkus dengan tawa, parikan, dan mungkin sedikit nakal—seperti khasnya Besut yang selalu mampu mengajak kita menertawakan hidup, bahkan ketika kita sedang menatap waktu yang pelan-pelan pamit.

Baca juga: Gubernur Jabar Terima Lencana Emas Surya Kencana Nusantara Agung

Sambang putu adalah tentang pulang. Tapi bukan ke rumah.
Melainkan ke diri yang tak pernah benar-benar pergi.

Oleh: Meimura

Editor : redaksi

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru