Swaranews.com — Di tengah menguatnya perbincangan publik mengenai relevansi dan masa depan program studi rumpun sosial-humaniora di perguruan tinggi, mahasiswa Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur memberikan jawaban konkret. Melalui gelaran Communication Festival 2026 (COMMFEST 2026), mereka membuktikan bahwa Ilmu Komunikasi tidak sekadar eksis, melainkan terus bertransformasi mengikuti dinamika zaman.
Festival tahunan ini digelar pada Sabtu, 6 Juni 2026, bertempat di Ballroom Lantai 11, Wimaya Tower B, UPN “Veteran” Jawa Timur. Mengusung tema “The Influencer Era: Trends, Media, and Identity” dengan tagline “Shaping Perception, Creating Reality”, COMMFEST 2026 menjadi panggung apresiasi atas karya, kreativitas, gagasan, dan praktik komunikasi mahasiswa yang lahir dari proses pembelajaran berbasis proyek (project-based learning).
Baca juga: Pemkot Surabaya Jamin Semua Siswa Tertampung
Koorprodi Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur, Syafrida, menegaskan bahwa COMMFEST 2026 dirancang sebagai manifestasi nyata bahwa kurikulum dan pola pembelajaran Ilmu Komunikasi terus bergerak adaptif demi menghasilkan karya yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta industri kreatif digital.
“Di tengah banyaknya pertanyaan tentang masa depan program studi dan relevansi ilmu sosial-humaniora, COMMFEST 2026 menjadi cara kami menunjukkan bahwa Ilmu Komunikasi masih sangat hidup. Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga mempraktikkan komunikasi melalui karya, riset kecil, kampanye, produksi konten, visual kreatif, performa, dan gagasan yang dekat dengan realitas anak muda hari ini,” ujar Syafrida, Sabtu (6/6/2026).
Menjawab Krisis Komunikasi di Ruang Digital
Menurut Syafrida, indikator relevansi sebuah program studi tidak boleh dipersempit hanya berdasarkan angka serapan industri. Perguruan tinggi memikul tanggung jawab lebih besar untuk membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, membaca perubahan sosial, memahami budaya, membangun empati, serta merawat ruang publik yang sehat.
Ia menambahkan bahwa lanskap digital saat ini justru sedang menghadapi tantangan hebat yang membutuhkan kepakaran ilmu komunikasi.
“Dunia hari ini justru sedang menghadapi krisis komunikasi yang sangat besar. Media sosial penuh kebisingan, disinformasi menyebar cepat, algoritma membentuk cara berpikir, dan anak muda hidup di tengah tekanan budaya digital. Dalam situasi seperti ini, Ilmu Komunikasi bukan semakin tidak relevan, tetapi justru semakin dibutuhkan,” urainya.
Oleh karena itu, Prodi Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur terus memperbarui metode pembelajaran secara kontekstual. Kolaborasi lintas mata kuliah dioptimalkan pada ranah:
Praktik produksi media dan riset budaya digital.
Komunikasi pemasaran (marketing communication) dan public relations.
Baca juga: Dispendik Surabaya Pastikan Lulusan SD Tertampung di Semua SMPN dan Swasta
Fotografi, broadcasting, konten kreatif, hingga kajian mendalam media sosial.
Apresiasi Karya dan Portofolio Profesional
COMMFEST 2026 menyajikan rangkaian agenda utama yang komprehensif, meliputi Art & Creative Showcase, Student Performance Stage, Inspiring Talkshow, hingga Project Awarding.
Sesi Project Awarding menjadi salah satu sorotan utama sebagai bentuk pengakuan prodi terhadap proyek akademis terbaik mahasiswa. Syafrida menilai langkah ini krusial agar mahasiswa memahami bahwa output perkuliahan tidak berhenti pada nilai di kartu hasil studi (KHS), melainkan berlanjut pada penguatan portofolio.
“Ketika karya mahasiswa diberi ruang, ditampilkan, dan diapresiasi, mereka akan memahami bahwa belajar bukan hanya tentang menyelesaikan tugas, tetapi tentang membangun portofolio, identitas profesional, dan kepercayaan diri untuk menghadapi masa depan,” tuturnya.
Baca juga: I Am Gifted
Ekspresi Kreatif Lewat Tren Color Block
Tidak hanya sarat akan bobot akademik, COMMFEST 2026 juga dikemas adaptif dengan karakteristik generasi muda yang ekspresif. Tahun ini, festival dimeriahkan dengan penerapan dresscode color block—sebuah konsep busana yang memadukan warna-warna cerah dan kontras seperti merah, kuning, biru, hijau, dan putih secara berani.
Konsep visual yang mencolok ini dipilih bukan tanpa alasan. Hal tersebut merupakan representasi dari keberanian berekspresi, keberagaman identitas, serta ketajaman respons mahasiswa terhadap budaya digital yang kini semakin visual, kreatif, dan partisipatif.
Melalui perhelatan COMMFEST 2026, Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur ingin mengirimkan pesan kuat kepada publik: keberadaan program studi diukur dari kemampuannya membentuk generasi muda yang kritis, kreatif, etis, dan adaptif di tengah dunia yang kian digital.
”COMMFEST 2026 menjadi bukti bahwa Ilmu Komunikasi tidak sedang kehilangan arah. Sebaliknya, ia terus bergerak, memperbarui diri, dan memberi ruang bagi mahasiswa untuk tumbuh sebagai komunikator muda yang mampu membaca perubahan, menciptakan karya, serta menghadirkan dampak positif bagi masyarakat,” pungkas Syafrida. (mar)
Editor : redaksi