Pelaksanaan SDGs (Sustainable Development Goals) Tahun 2020-2024 sendiri masih banyak kendala dari berbagai aspek. Apalagi ditambah situasi dan kondisi pandemi yang menerjang, lalu bagaimana nasib SDGS Indonesia selanjutnya?
Swaranews.com - Pandemi yang disebabkan oleh Covid-19 ini terus menerus tumbuh di Indonesia dengan berbagai variannya, bahkan ada yang bisa menyerang secara ganas dengan indikator ke manusianya sendiri tanpa ada gejala.
Baca juga: JMAkademy Leadership Camp
Virus tersebut muncul di Indonesia sejak Maret 2020 ini membuat Indonesia maupun dunia serasa terancam, terguncangnya kehidupan manusia dengan dipaksanya hidup baru atau sering disebut New Normal. Dimana tentunya semua orang di dunia ini merasakan perubahan yang berbeda dalam menjalani aktivitas sehari-hari, misalnya saja dari segi pekerjaan yang memaksa manusia untuk bekerja di rumah, menjalani aktivitas di manapun harus menggunakan masker.
Saya sendiri sangat lelah, sesak sekali rasanya harus menggunakan masker setiap hari, bahkan di rumah karena adanya salah satu keluarga yang terkena virus Covid-19 tersebut. Lalu adaya penyuntikan vaksin yang harus dilakukan sebagai imun tubuh, terkadang membuat saya berpikir bahwa hal tersebut memang harus dilakukan dan didistribusikan dengan baik dikalangan masyarakat Indonesia, bahkan ke pelosok-pelosok daerah Indonesia.
Tak terkecuali virus ini pun sangat mengganggu tujuan untuk mencapai target pembangunan berkelanjutan/ SDGS Indonesia pada tahun 2030. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya tantangan untuk mencapai target pembangunan berkelanjutan yang paling berpengaruh kepada pilar ekonomi, pilar sosial, dan pilar lingkungan.
Jika ada satu pilar saja yang salah, tidak benar, tidak terpenuhi, tentunya akan menggangu pilar-pilar yang lainnya. Hingga pada akhirnya akan mengancam agenda 2030 SDGS yang telah direncanakan sebelumnya.
Menurut data dari kata data bahwa, Sebanyak 255 juta orang di dunia kehilangan pekerjaan, 110 juta orang jatuh miskin dan 83 juta hingga 132 juta orang terancam kelaparan dan malnutrisi.
Logistik pangan terganggu akibat pembatasan sosial serta akses terhadap pangan menurun akibat PHK. Pandemi Covid-19 menyebabkan pola belajar mengajar di sekolah berubah. layanan kesehatan dan produksi di Indonesia terganggu.
Baca juga: SPMB SD selesai,Seleksi SMP Masuk Tahap Afirmasivdan Mutasi
Belum lagi, beban kerja perempuan di rumah tangga menjadi meningkat. Lebih jauh, penurunan pertumbuhan ekonomi ini juga berdampak pada ketenagakerjaan pada tujuan ke 10 SDGs.
Dibalik hambatan pandemi yang membuat hambatan target pembangunan berkelanjutan, tentunya pemerintah Indonesia perlu bangkit agar tidak berlarut-larut menyebabkan hambatan terget tersebut menjadi berkelanjutan. Solusi tersebut antara lain :
1. Akses yang adil dan merata terhadap vaksin harus dijamin. Vaksin sebagai global public goods jangan hanya menjadi slogan.
2. Kedua, semua negara harus meningkatkan perhatian dan bantuan terhadap masyarakat terdampak pandemi, terutama kelompok rentan.
Baca juga: Kebijakan Libur Sekolah Pemkot Surabaya Dinilai Berhasil Kembalikan Peran Utama Keluarga
3. Roda perekonomian dunia harus bergerak bersama. Tanpa mengorbankan aspek kesehatan. Percepatan pemulihan ekonomi harus dilakukan dengan tetap mengutamakan kesehatan serta pembangunan berkelanjutan. Mendorong negara maju hadir dalam transisi ekonomi hijau di negara berkembang. Agar pembangunan inklusif menjadi landasan.
4. Mendorong kemitraan global diperkuat.
Penulis : Tryara Yulia Banobe (Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Program Studi Administrasi Publik Fakultas Bisnis, Hukum, dan Ilmu Sosial)
Editor : redaksi