Mitigasi Bencana Surabaya Dinilai Belum Optimal, Ketua Komisi A Desak Perbaikan Command Center

Reporter : amar
Ketua Komisi A DPRD Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko (Tim)

Swaranews.com – Ketua Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko, menyoroti kesiapsiagaan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam menghadapi puncak musim hujan dan potensi cuaca ekstrem pada November-Desember mendatang. Yona mendesak agar mitigasi bencana tidak hanya bertumpu pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat kota, melainkan harus diperkuat hingga ke level kecamatan dan kelurahan sebagai garda terdepan.

"Anomali cuaca tahun ini membuat pola hujan tidak stabil. Karena itu mitigasi harus ketat. Tidak bisa hanya mengandalkan BPBD di pusat, tapi harus sampai ke kecamatan dan kelurahan," ujar politisi Gerindra yang akrab disapa Cak Yebe ini, Kamis (20/11/2025).

Baca juga: Anas Karno Dorong Pelayanan Publik yang Cepat, Responsif dan Humanis

Menurut Cak Yebe, intensitas hujan yang tidak menentu, disertai potensi angin kencang, genangan, dan pohon tumbang, menuntut perangkat wilayah meningkatkan patroli dan pemetaan titik rawan. Ia menekankan pentingnya peran lurah dan camat untuk memastikan seluruh saluran lingkungan bersih guna meminimalisir gangguan air sejak dini.

"Yang paling dekat dengan warga adalah kelurahan dan kecamatan. Respons awal itu sangat menentukan, terutama pada menit-menit pertama ketika hujan ekstrem turun," tegasnya.

Cak Yebe juga menyoroti ketersediaan peralatan mitigasi dasar di setiap kelurahan. Ia meminta agar pompa portabel, gergaji mesin, lampu darurat, hingga pelampung, harus siap digunakan tanpa harus menunggu bantuan dari BPBD.

Kerusakan Command Center Jadi Sorotan

Selain kesiapan di lapangan, Cak Yebe menyoroti kondisi teknis Command Center (CC) Surabaya yang krusial. Sebanyak 31 TV monitor yang meng-cover 124 titik CCTV dilaporkan mati atau mengalami kendala, menyebabkan ruang kendali kehilangan kemampuan memantau lokasi vital kota secara real time.

Kondisi ini dinilai sangat berbahaya, terutama saat cuaca ekstrem di mana operator CC membutuhkan visual penuh untuk mendeteksi dini banjir, pohon tumbang, atau gangguan lalu lintas.

Baca juga: DPRD Surabaya Pertegas Semua Anak Usia Sekolah Bisa Tertampung di SPMB 2026

"Monitor yang mati itu harus segera diganti. Operator Command Center perlu melihat seluruh titik vital supaya BPBD bisa cepat antisipasi ketika situasi darurat terjadi," ujarnya.

Ia menekankan bahwa sistem kendali kota seharusnya menjadi tulang punggung mitigasi modern. Jika perangkat kunci tidak berfungsi optimal, kecepatan respons dalam penanganan bencana berpotensi terhambat.

Edukasi Warga Diperlukan

Di sisi lain, edukasi masif kepada warga melalui RT/RW juga dianggap vital. Masyarakat, kata Cak Yebe, harus memahami langkah aman saat hujan lebat, lokasi titik kumpul, serta cara melapor melalui CC 112.

Baca juga: Plh Wali Kota Dukuh Penuh Kebangkitan Ekonomi UMKM di Surabaya

"Informasi yang cepat menyelamatkan nyawa. Edukasi warga itu bagian dari mitigasi paling efektif," tuturnya.

Sebagai langkah lanjutan, Komisi A memastikan akan memanggil dinas terkait untuk mengevaluasi kesiapan peralatan mitigasi, termasuk perbaikan Command Center.

"Kami tidak ingin ada kelalaian teknis yang berujung pada lambatnya respons bencana. Semua perangkat, termasuk Command Center, harus bekerja 100 persen karena keselamatan warga adalah prioritas utama," tutup Cak Yebe. (Mar)

Editor : redaksi

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru