ERGONOMIS : RUMAH MENYEHATKAN

Oleh : Prof. DR. Gempur Santoso, M.Kes

Redaksi 235 Kali Dilihat 0 Komentar

ERGONOMIS : RUMAH MENYEHATKAN

Swaranews.com - SEMOGA saatnya juga punya rumah. Kita harapkan masuk rumah jadi sehat. Masuk rumah jadi segar. Masuk rumah terhibur. Setelah kerja keras.

Masuk rumah jadi sehat. Jangan sampai masuk rumah malah jadi sakit.

Kuncinya : anadufatu minal iman (kebersihan sebagian dari iman). Bagaimana hal itu bisa tercapai?.

Bukan mahalnya atau tidak mahalnya rumah. Tapi, yang utama manusia penghuninya menjadi sehat. Perlu pendekatan ergonomis.

Ergonomis rumah :

Pertama. Manusia bisa hidup nomal. Jika menghirup Oksigen (O2) di udara yang cukup. Nilai ambang batas (NAB) O2 di udara sekitar 23,5%. Kalau kurang dari itu metabolisme tubuh terganggu. Maka, ventilasi udara yang masuk dalam rumah harus baik/tepat penempatannya.

Metabolit dari metabolis. Merupakan sumber ATP (adenosina triphospat) sebagai tenaga tubuh. Dalam proses metabolisme itu butuh O2 yang cukup. Sehingga kuat sehat.

Udara yang masuk ke dalam rumah melalui ventilasi/ventilator : jendela, bentuk pintu, roster (angin angin), dan sebagainya.

Pemasangannya dibuat di atas dan di bawah, juga tidak segaris. Sehingga udara tidak langsung masuk rumah dan keluar rumah. Tetapi, udara dalam rumah bisa berkeliling dan mengenai hidung dan tubuh manusia penghuni.

Angin akan "berjalan"/bergerak. Ada kecepatan angin, ada kelembaban (humadity) yang normal di dalam rumah.

Kedua, Penerangan/penyinaran dalam rumah. Alat ukurnya namanya luxmeter. Jika kesulitan. Cukup dalam rumah kita terasa enak membaca tulisan koran.

Siang hari. Iklim cerah. Itu penerangan cukup. Tentu mata normal saat membaca tulisan koran.

Penerangan cukup. Agar makhluk halus (virus dan bakteri) di dalam rumah tidak hidup. Juga jamur, fungi, renget, dan lain-lain tidak bisa hidup di dalam rumah. Agar kita sehat. Tidak sakit. Tidak berpenyakit. Bahasa jawanya = tidak pengap.

Ketiga. Bersih, rapi, dan indah. Ini penting. Jangan sampai ada sampah di dalam rumah maupun di luar sekeliling rumah. Sediakan bak sampah.

Penataan. Dibuat palatan yang sejenis atau hampir sejenis, berdekatan. Usahakan, saat masuk rumah, yang dilepas alat apa dulu, beri tempatnya. Misal : mulai masuk rumah copot sepatu. Disitu diberi tempat sepatu. Kemudian, copot kaos kaki, di situ diberi tempatnya. Makin ke dalam rumah, diberi tempat yang berurutan.

Penataan alat sejenis dan berurutan. Rapi. Tujuannya, agar tidak kesulitan mencari. Juga, tidak meloncat-loncat penggunaannya atau pemakaiannya. Efektif. Tidak melelahkan saat mencari. Tidak kotor. Coba, masuk rumah sambil nyangking (membawa) sepatu. Sampai ke dalam, tentu karena tempatnya meloncat. Kotor.

Atur yang indah. Paling sering di rumahnya, ya penghuni rumah itu. Keindahan memang subyektif. Paling tidak jangan ada yang menyilaukan. Agar mata tidak mudah lelah.

Tak lelah dan indah. Rumah : Lantai gelap, dinding agak cerah. Peralatan agak warna agak cerah. Langit-langit (plafon) pakai warna cerah.

Usahakan ada tanah kosong. Untuk tanaman. Untuk produksi Oksigen. Sifat tanaman, siang menyerap CO2 dan produksi Oksigen, malam dikeluarkan Carbon Dioksida (CO2). Tata yang indah. Pikiran kita pun santai.

Syukur punya halaman depan. Halaman belakang. Kalau terpaksa, indekos rumah petak, misalkan, bisa ditanan di pot.

Mahalnya, murahnya, sangat murahnya. Atau apa pun. Rumah kita menjadi mewah kalau menyehatkan. Selamat punya rumah yang ergonomis... menyehatkan.

(Gesa) *) Guru besar UNIPA Adi buana Surabaya. Managing Director Apenso.

Penasehat Swaranews.

Tinggalkan Komentar