Tenaga Outsourcing Di SMPN 45 Surabaya Dibayar Rp 1,7 Jita

avatar swaranews.com
Khusnul Khotimah (berhijab putih) saat menerima aduan OS SMPN 45 Surabaya. (Tim)
Khusnul Khotimah (berhijab putih) saat menerima aduan OS SMPN 45 Surabaya. (Tim)

Swaranews.com -  Fraksi PDI Perjuangan di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya kedatangan tiga orang tamu yang mengadukan nasib yang dialami oleh mereka. Mereka mengaku bahwa secara tiba-tiba diputus hubungan kerja oleh Kepala SMP Negeri 45 Mulyorejo - Surabaya, tanpa alasan apapun.

Khusnul Khotimah, Anggota Fraksi PDI Perjuangan yang menerima keluhan tersebut menyampaikan bahwa dua orang dari bagian kebersihan dan seorang lagi adalah tenaga keamanan, yang ketiganya sudah mengabdi lebih dari 6 tahun dengan honor hanya Rp 1,7 hingga Rp 2,2 juta/bulan.

Melalui sambungan telpon Khusnul, kepala sekolah SMPN 45, Supardi, S.Pd mengatakan, bahwa alasan dikeluarkan, pihak sekolah menganggap ketiganya dinilai tidak maksimal dalam bekerja sekaligus gaji untuk ketiganya tidak ada di anggaran sekolah.

"Ternyata selama ini mereka menerima honor yang jauh dari UMK dan jam kerja yang lebih lama," ungkap Khusnul Khotimah, Senin (4/4/2022).

Legislator yang juga Ketua Komisi D DPRD Kota Surabaya ini menyesalkan kejadian yang sebenarnya diluar dugaannya. Dia menyebutkan ketiga tenaga outsourcing itu diantaranya, Dewi dan Fauzi tenaga kebersihan, serta Heri di bagian keamanan.

Menurut keterangan, Dewi merupakan tenaga kebersihan sudah mengabdi selama 6 tahun dengan honor hanya Rp 1,7 juta/bulan. Padahal yang bersangkutan tinggal indekos di Tambak sumur.

"Bisa dibayangkan jauh sekali kesini (SMPN 45 Mulyorejo, red), jam 05.30 Wib sudah harus mulai bekerja," ucap Khusnul.

Sementara itu, Fauzi yang juga petugas kebersihan, rumahnya di daerah Rangkah mengabdi sudah 9 tahun dengan honor Rp 2,2 juta. Begitu juga dengan Heri yang sudah mengabdi selama 6 tahun dengan honor Rp 2,079 juta/bulan.

"Artinya, ternyata di sekolah negeri itu masih ada tenaga seperti ini digaji jauh dibawah UMK," keluh legislator berhijab ini.

Khusnul menegaskan, yang disayangkan pemberian honor sebesar itu dasarnya apa, karena ini berbeda saat pembahasan penyusunan APBD untuk pendidikan yang dihitung berdasarkan kebutuhan sekolah.

"Saya sudah menghubungi Kepala Dinas Pendidikan, karena masih ada zoom dengan PAUD, maka hanya dapat bicara dengan sekretaris Dispendik Kota Surabaya," aku Khusnul Khotimah.

Dia menerangkan, dari keterangan dinas terkait, dinyatakan bahwa honor ketiganya sudah dimasukkan anggaran BOPDA (Biaya Operasional Pendidikan Daerah, red) sehingga bisa mendapatkan honor sesuai UMK.

Khusnul kembali menjelaskan, sebenarnya antara dana BOS dan BOPDA di masing masing sekolah kebutuhannya berbeda, jadi semua keperluan sekolah ada yang diambilkan dari BOS maupun BOPDA berdasarkan ketentuan yang ada.

"Yang saya tahu anggarannya terkait hal ini memang masuk di BOPDA, bukan dana BOS," bebernya.

Khusnul Khotimah menyatakan bahwa dana BOS biasanya dipergunakan untuk honor guru yang masih honorer dan sebagainya.

"Waktu itu (Rakor anggaran, red), masing - masing sekolah sudah diminta untuk membuat anggaran RPPS (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Sekolah, red), sesuai kebutuhannya. Termasuk honor tenaga pengajar dan lain - lain, juga kebutuhan anak - anak. Kemudian dihitung dimasukkan kepada untuk penganggaran selanjutnya," terangnya.

Dari keterangan yang berbeda-beda ini, menurut Khusnul malah menimbulkan kecurigaan, apa yang sebenarnya terjadi di SMPN 45? Kenapa seolah banyak yang ditutupi?

Sebagai lembaga pengawas, Khusnul menyayangkan hal ini lambat untuk diselesaikan.

"Ramai diadukan baru ada penyelesaian, padahal Sabtu kemarin sudah dipanggil dan difasilitasi oleh Dinas Pendidikan, " sambungnya.

Khusnul mengatakan, artinya dinas pendidikan sebenarnya sudah memberikan langkah langkah solutif, tapi pihak sekolah seolah lambat untuk menindaklanjuti.

Dengan adanya kejadian ini, Khusnul berharap pihak Dispendik segera melakukan evaluasi dan mengoreksi kembali seluruh kebutuhan dan kondisi tiap-tiap sekolah.

"Saaya khawatir, kejadian yang sama terjadi di sekolah yang lain. Namun tidak berani melaporkan," imbuhnya.

Khusnul mengucapkan rasa syukurnya, karena sudah ada solusi untuk ketiga tenaga OS ini. Bahkan, ketiganya sudah disuruh menghadap ke SMPN 45 untuk dipekerjakan kembali.

"Nanti kita akan awasi perkembangannya," pungkas Khusnul Khotimah. (mar)

Editor : redaksi