Merawat Budaya Jawa Perpaduan dengan Tionghoa

CSwaranews.com -  Mengenal Cetya Lay Seng Bio yang merupakan perpaduan tradisi Jawa-Tionghoa. Tertata dengan baik, ada Altar utama Kongco Hok Tek Cen Sin dikenal sebagai dewa bumi, makco Thian Shang Shen Mu, Kwan Yin Bu Sa, kongco Kwan Kong dan lainnya.

Di depan gerbang masuk terdapat altar Semar Mesem dan Punokawan.

Baca Juga: Wali Kota Eri Bawa Pesan Jaga Persatuan di Sedekah Bumi Ngagel Rejo

"Keunikan Cetya ini perpaduan tradisi Jawa dengan Tionghoa yang dapat hidup rukun berdampingan satu dengan lainnya. Kita hidup di Jawa wajib menghormati kearifan lokal budaya jawa," ujar Lie Tang Ban.

Kilas sejarah pendiri awal Hok Kiat pendiri Cetya Lay Seng Bio tahun 1928 lalu dilanjutkan Lie Hap Leng hingga 1980. Lalu sekarang dilanjutkan Lie Tang Ban.

Baca Juga: Surabaya Raih Predikat Jelurahan Terbaik

Sejarah sinshe Go Lay Seng dari Tiongkok pengikut Putri Ong Tin Nio Putri gunung Jati. Perpaduan Jawa Tionghoa Sunan gunung Jati (cucu Prabu Siliwangi) dengan memperistri Putri Ong Tin Nio dari Hokkian, Tiongkok.

"Terdapat juga Altar Eyang Cakra Buwana paman dari Sunan Gunung Jati untuk menghormati pemujaan terhadap para leluhur di tanah Jawa," terangnya.

Baca Juga: Film Koesno dan Soera Ing Baja Bakal Diputar di Layar Tamcap JCC

Kimsin para dewa-dewi yaitu Han Tan Kong, Hok Tik Cen Sin (dewa rejeki), Hian Thian Siong Tee, To Thie Kong (dewa bumi) dan lainnya. (sun)

Editor : amar