DPRD Surabaya Minta Pemkot Tekan Kasus DBD

dr. Akmarawita Kadir Sekretaris Komisi D DPRD Surabaya.
dr. Akmarawita Kadir Sekretaris Komisi D DPRD Surabaya.

Swaranews.com - Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya mengundang Dinas Kesehatan untuk rapat koordinasi.
Hal itu dilakukan seiring banyaknya laporan peningkatan penyakit di Kota Pahlawan ini.

Menurut, dr. Akmarawita Kadir selaku Sekretaris Komisi D DPRD Kota Surabaya bahwa pihaknya melakukan hal itu untuk mencari informasi dan solusi demi pelayanan kesehatan kepada masyarakat lebih maksimal.

Baca Juga: DPRD Targetkan Brida Kota Surabaya Menjadi Percontohan

“Terkait ada beberapa laporan peningkatan kasus demam berdarah, flu Singapura, ISPA dan penyakit gondongan,” ujar Akmarawita Kadir ditemui seusai rapat, kemarin.

Khusus kasus demam berdarah seperti yang disampaikan oleh Dinas Kesehatan dalam rapat, ada peningkatan 29 persen di akhir periode bulan April

“Tapi untuk angka kematian 0 persen dan belum dikatakan KLB (Kejadian Luar Biasa). Sedangkan kalau kasus DBD sesuai kriteria itu peningkatannya 2 kalinya,” papar Akmarawita Kadir

Pilitisi dari Fraksi Partai Golkar ini menegaskan,  dibanding dengan kota - kota lain seperti Jember dan Probolinggo, pihaknya menyebut sudah kejadian luar biasa (KLB).

“Karena peningkatannya cukup tinggi,’ ungkap Akmarawita Kadir

Komisi D melihat Surabaya secara umum memang ada peningkatan, tetapi untuk pencegahan penyakit DBD dinilai cukup baik. Bahkan program pencegahannya sudah turun sampai ke Puskesmas, masyarakat, Kader Surabaya Hebat (KSH) dan Bumantik.

“Tapi kita tetap mengingatkan untuk prosedurnya sampai ke bawah,” jelas Akmarawita Kadir

Dia mewanti wanti agar masyarakat, KSH dan bumantik tetap menjaga daerahnya masing masing untuk menekan jumlah kasus DBD.

“Dan jangan sampai menimbulkan kejadian. kematian,” harap Akmarawita Kadir

Baca Juga: DPRD Surabaya Apresiasi Pemkot atas Capaian Perbaikan Jalan dan Saluran

Oleh karena itu untuk program fogging dan 3M plus harus tetap terus dilakukan dan menjaga dengan baik, karena ada 10 kecamatan dan kelurahan paling terbanyak (Kasus DBD)

Akmarawita menyatakan, harus menjadi perhatian pemerintah kota supaya jangan sampai di 10 wilayah tersebut meningkat lagi.

“Kita akan meminta puskesmas untuk terus berkoordinasi dengan Bumantik maupun KSH,” tekannya.

Adapun 10 wilayah terbanyak tersebut diantaranya Tandes, Sawahan, Benowo, Rungkut, Pakal Sambikerep, Tambaksari, Wonokromo, Tenggilis dan Kenjeran.

“Itu akan menjadi fokus kita bersama dan tidak menyampingkan daerah daerah lain untuk tetap pertahankan kebersihan dan 3M plusnya,” tutur Akmarawita Kadir.

Baca Juga: Pemkot Surabaya Tingkatkan Antisipasi Resiko Penularan DBD 

Sementara itu, Nanik Sukristina Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya mengatakan, pihaknya bersyukur bahwa kasus DBD di Surabaya bisa dikendalikan tidak sampai melonjak seperti di wilayah kabupaten/ kota di Jawa timur

“Jadi sampai akhir April kemarin kasus (DBD) ada peningkatan di bandingkan dengan tahun 2023 di periode yang sama,” ujar Nanik Sukrisna

Tetapi, ,angka kenaikan hanya 26 persen yang masih dirasa aman dan jangan sampai terjadi KLB di kota Surabaya.

"Kita tetap waspada dan menggerakkan masyarakat dan KSH untuk selalu melaksanakan pola hidup sehat dan lingkungan. Melakkukan pemberantasan sarang nyamuk secara mandiri di wilayahnya masing masing,” tutup Nanik.(Adv)

 

Editor : amar