Ole
Oleh: KH Imam Jazuli Lc., MA
Baca juga: Sinyal Kuat Regenerasi PBNU
Dalam dinamika organisasi sebesar Nahdlatul Ulama (NU), jebakan mentalitas ana wal akhar (aku dan yang lain/mereka) sering kali menjadi celah yang melemahkan potensi besar organisasi. Sikap ini memunculkan fragmentasi, di mana kader terjebak dalam sekat-sekat kelompok, faksi, atau kepentingan personal. Realitas ini menuntut kita untuk melihat realitas bahwa tantangan zaman di abad kedua NU tidak bisa diselesaikan oleh satu figur atau satu kelompok saja. Menghadapi disrupsi teknologi, tantangan ekonomi umat, dan pergeseran nilai sosial, kita harus menyadari bahwa kekuatan NU terletak pada keragaman potensi yang dimilikinya.
Sudah saatnya orientasi berpikir diubah secara radikal menjadi nahnu (kita). Ini bukan sekadar perubahan leksikal, melainkan transformasi filosofis yang mendalam. Nahnu adalah manifestasi dari semangat ukhuwah nahdliyah (persaudaraan sesama warga NU) yang diterjemahkan ke dalam bahasa profesionalisme modern.
Dalam konsep nahnu, tidak ada lagi istilah kader yang berjalan sendiri-sendiri atau saling meniadakan. Setiap kader—baik dari kalangan intelektual, profesional, birokrat, kiai, hingga aktivis akar rumput—memiliki peran yang saling melengkapi. Kita harus bertransformasi menjadi sebuah super tim yang kompak, di mana kelemahan satu kader ditutupi oleh kelebihan kader lainnya.
Memasuki abad kedua, NU diberkahi dengan limpahan Sumber Daya Manusia (SDM) yang luar biasa. Ulama dan cendekiawan muda NU hari ini tersebar di berbagai sektor strategis, baik di tingkat nasional maupun global. Potensi besar ini tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri atau saling berkompetisi secara tidak sehat. Agar kebangkitan NU benar-benar terwujud secara nyata, diperlukan langkah strategis yang berjalan beriringan. Langkah pertama diawali dengan Konsolidasi Talenta untuk memetakan dan mengumpulkan para ahli di berbagai bidang seperti teknologi, pendidikan, ekonomi, dan sains ke dalam simpul-simpul strategis NU.
Upaya ini kemudian diperkuat melalui kolaborasi lintas generasi yang menjembatani bentangan pengalaman para kiai senior dengan inovasi serta energi segar dari kaum muda NU, termasuk Gen Z dan Milenial. Seluruh proses tersebut akhirnya bermuara pada Pembangunan Ekosistem yang kondusif, yaitu menciptakan ruang kerja kolaboratif agar SDM hebat dapat bergandengan tangan, bersinergi, dan saling menguatkan. Transformasi menuju nahnu tidak boleh berhenti sebagai jargon moral atau retorika struktural semata, melainkan harus diinstitusionalkan ke dalam sistem tata kelola organisasi yang modern. Kekuatan jam'iyah (organisasi) harus diletakkan jauh di atas kekuatan figuritas individu, sehingga keberlanjutan perjuangan NU tidak lagi bergantung pada pasang surut kepemimpinan personal, melainkan pada keandalan sistem yang berjalan.
Baca juga: Lirboyo Jantung Syuriah, Pabrik Struktural NU
Siap-Siap, Harga Barang Bisa Naik Setelah Rupiah Cetak Rekor Terlemah Kronologi Tindakan Asusila Penyebab Ketua KPU Hasyim Asy’ari Diberhentikan Artikel Kompas.id Memasuki abad kedua, NU diberkahi dengan limpahan Sumber Daya Manusia (SDM) yang luar biasa. Ulama dan cendekiawan muda NU hari ini tersebar di berbagai sektor strategis, baik di tingkat nasional maupun global.
Potensi besar ini tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri atau saling berkompetisi secara tidak sehat. Agar kebangkitan NU benar-benar terwujud secara nyata, diperlukan langkah strategis yang berjalan beriringan. Langkah pertama diawali dengan Konsolidasi Talenta untuk memetakan dan mengumpulkan para ahli di berbagai bidang seperti teknologi, pendidikan, ekonomi, dan sains ke dalam simpul-simpul strategis NU. Upaya ini kemudian diperkuat melalui kolaborasi lintas generasi yang menjembatani bentangan pengalaman para kiai senior dengan inovasi serta energi segar dari kaum muda NU, termasuk Gen Z dan Milenial.
Seluruh proses tersebut akhirnya bermuara pada Pembangunan Ekosistem yang kondusif, yaitu menciptakan ruang kerja kolaboratif agar SDM hebat dapat bergandengan tangan, bersinergi, dan saling menguatkan. Transformasi menuju nahnu tidak boleh berhenti sebagai jargon moral atau retorika struktural semata, melainkan harus diinstitusionalkan ke dalam sistem tata kelola organisasi yang modern. Kekuatan jam'iyah (organisasi) harus diletakkan jauh di atas kekuatan figuritas individu, sehingga keberlanjutan perjuangan NU tidak lagi bergantung pada pasang surut kepemimpinan personal, melainkan pada keandalan sistem yang berjalan. Baca berita tanpa iklan.
Gabung Kompas.com+ Di era disrupsi informasi ini, manifestasi "kita" juga memerlukan dukungan infrastruktur data yang tunggal dan terintegrasi. Tanpa adanya digitalisasi potensi kader, ego sektoral akan terus subur karena ketidaktahuan antar-lembaga; sebaliknya, keterbukaan data akan memotong birokrasi yang kaku dan mempercepat akselerasi program kerja secara real-time. Dari aspek materi, harmoni kolektif ini harus bermuara pada kemandirian ekonomi berbasis jamaah.
Baca juga: Perkuat Sinergi, PCNU Gelar Halalbihalal di Kantor Sejarah Bubutan
Jika ego sektoral runtuh, jaringan bisnis pesantren, modal warga, dan kepakaran profesional NU dapat dikonsolidasikan menjadi kekuatan korporasi syariah raksasa yang mampu membiayai agenda besar dakwah tanpa harus mendiktekan diri pada kepentingan politik pragmatis luar. Meruntuhkan ego "ana wal akhar" berarti menumbuhkan kultur tabayyun dan keterbukaan terhadap kritik di internal jam'iyyah NU. Oleh karena itu, perbedaan pandangan di abad kedua ini tidak boleh lagi dibaca sebagai benih perpecahan atau ancaman, melainkan harus dikelola sebagai khazanah intelektual yang memperkaya opsi-opsi strategis organisasi dalam pengambilan keputusan. Secara teologis, penguatan spirit nahnu ini merupakan upaya menjemput janji Allah SWT bahwa pertolongan-Nya menyertai kebersamaan (yadullah ma'al jama'ah).
Ketika jutaan hati dan pikiran kader bergetar dalam frekuensi yang sama, energi spiritual yang tercipta akan melipatgandakan dampak dan keberkahan dari setiap khidmah yang didedikasikan untuk umat. Baca juga: 3 Tokoh Muda NU Kumpul di Cirebon, Sinyal Regenerasi Kepemimpinan PBNU Menguat Walhasil, abad kedua NU harus menjadi pembuktian nyata bahwa lompatan peradaban hanya bisa dipimpin oleh mereka yang selesai dengan ego dirinya sendiri.
Dengan membumikan filosofi nahnu, NU tidak sekadar bertahan menghadapi arus zaman, melainkan menjelma menjadi kompas moral dan lokomotif kemajuan yang membawa kemaslahatan hakiki bagi dunia internasional. Kesuksesan abad kedua NU tidak ditentukan oleh satu atau dua tokoh sentral, melainkan oleh orkestrasi jutaan kader yang bergerak dalam satu irama nahnu. Dengan bersatu, meruntuhkan ego ana wal akhar, dan memaksimalkan potensi kolektif, NU akan menjadi lokomotif peradaban yang membawa kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan dunia. Wallahu'alam bissowab.
Editor : redaksi