Swaranews.com - Seperti Bunyi pepatah baru di kota-kota modern: jika sebuah gedung terlalu sering diperdebatkan, berarti gedung itu masih hidup. Balai Pemuda tampaknya termasuk kategori tersebut. Ia bukan sekadar bangunan tua, melainkan ruang ingatan, ruang konflik, ruang pertemuan, sekaligus ruang rebutan tafsir. Kadang diperlakukan sebagai aset administrasi, kadang sebagai panggung kebudayaan, dan sesekali hampir seperti meja rapat yang bisa dipindah-pindah sesuai masa jabatan.
Di tengah situasi itu, pameran Vivere Pericoloso: Waktu Penuh Nestapa hadir dengan cara yang menarik: para pelukis tidak menulis surat protes, tidak menggelar konferensi pers, tidak pula membawa spanduk. Mereka membawa kanvas. Dan seperti kita tahu, kanvas yang dikerjakan dengan totalitas sering kali lebih sulit dibantah daripada pidato panjang.
Baca juga: Reog Purbaya Surabaya Guncang Panggung Nasional KEN 2026
Sepuluh perupa yang berpameran di Galeri Dewan Kesenian Surabaya menunjukkan satu hal penting: Balai Pemuda bukan ruang kosong yang menunggu fungsi, melainkan ruang yang menghasilkan makna. Ketika karya-karya tentang Bung Karno, rakyat kecil, sejarah, doa ibu, Marhaen, hingga satire mi instan memenuhi galeri, yang sedang terjadi bukan sekadar pameran seni. Itu adalah demonstrasi halus bahwa kebudayaan masih bekerja.
Lukisan sebagai penanda kota
Secara akademis, kota yang sehat tidak hanya diukur dari jumlah flyover, pusat belanja, atau pertumbuhan ekonomi. Kota juga diukur dari kemampuan warganya memproduksi simbol, narasi, dan ruang refleksi. Dalam konteks ini, Balai Pemuda berfungsi sebagai infrastruktur kultural. Ia tidak menghasilkan tonase barang, tetapi menghasilkan percakapan publik. Dan percakapan publik yang sehat adalah salah satu indikator penting ekosistem demokrasi budaya.
Yang menarik, pameran ini lahir justru setelah galeri sempat mengalami penyegelan dan polemik. Biasanya ruang yang penuh intrik melahirkan kelelahan. Di sini yang muncul malah energi kreatif. Seolah-olah para pelukis sedang berkata, “Kalau pintu pernah ditutup, mari kita buka dengan warna.” Itu sikap yang tidak sentimental, tetapi strategis.
Humornya begini: birokrasi sering bekerja dengan logika inventaris — berapa meter persegi, siapa pengguna, apa status asetnya. Seniman bekerja dengan logika sebaliknya — berapa banyak kenangan, gagasan, dan keberanian yang pernah lahir di dalam ruang itu. Keduanya sama-sama penting. Masalah muncul ketika meter persegi dianggap lebih bernilai daripada memori kolektif.
Baca juga: Komunitas Perupa Delta Sidoarjo Gelar Pameran Prabangkara Taman Budaya Jatim Surabaya
Karena itu, apresiasi terbesar terhadap sepuluh pelukis tersebut bukan hanya pada kualitas visual karya-karyanya, melainkan pada kepeduliannya terhadap ekosistem budaya kota. Mereka mengingatkan bahwa strategi kebudayaan Surabaya tidak cukup berhenti pada pelestarian bangunan, tetapi harus menjaga fungsi sosial dan kreatif bangunan itu. Balai Pemuda tidak akan bertahan sebagai ikon hanya karena dindingnya dirawat; ia bertahan karena terus diisi oleh aktivitas seni yang relevan dengan zamannya.
Pameran Vivere Pericoloso juga memberi pelajaran lain: kebudayaan tidak selalu hadir dalam suasana nyaman. Kadang ia justru tumbuh di tengah polemik. Bung Karno menyebut hidup berbahaya sebagai keberanian menghadapi sejarah. Para pelukis ini tampaknya menerjemahkannya menjadi keberanian menghadapi ketidakpastian ruang budaya di kota sendiri.
Dan mungkin di situlah letak spektakulernya. Mereka tidak sekadar memajang lukisan di galeri. Mereka sedang menegaskan bahwa Balai Pemuda adalah rumah kebudayaan yang masih bernapas. Rumah yang boleh diperdebatkan, tetapi tidak boleh diperlakukan hanya sebagai barang inventaris yang bisa digeser-geser mengikuti umur jabatan.
Sebab jabatan lima atau sepuluh tahun akan berlalu. Tetapi karya seni, ingatan kolektif, dan jejak kebudayaan kota sering kali hidup jauh lebih lama daripada nama-nama yang tercantum di papan kantor.
Dan sejarah kota biasanya lebih setia mengingat ruang yang melahirkan gagasan daripada ruang yang sekadar tercatat dalam laporan aset. (*)
"Penulis: Meimura
Editor : redaksi