Langkah Divestasi PT Langgeng Makmur Industri Tbk untuk Perbaikan Kinerja

Reporter : Amar
RUPS LB PT Langgeng Mkmur Tbk. (Tim)

Swaranews.com - PT Langgeng Makmur Industri, Tbk  dalam RUPST (Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan) dan RUPS LB(Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) mengumumkan langkah divestasi korporasi strategis yang merupakan bagian dari strategi besar perseroan untuk memperbaiki likuiditas dan efisensi keuangan jangka panjang. Langkah tersebut berupa rencana penjualan asset kepada pihak ketiga senilai Rp160 miliar.Aset tersebut akan dialihkan kepada PT Gunacipta Multirasa, perusahaan yang dikenal sebagai produsen bumbu masak dengan merk kupoe-kopoe dan Duo Belibis. 

Aset yang akan dijual berupa tanah seluas 43.722m2beserta bangunan pabrik dan Gudang sekitar 13.150m2 yang berlokasi di Jl. Faliman Jaya No 18 Daan Mogot KM19, Kota Tangerang, Banten.Karena nilai transaksi material ini melebihi 50�ri total ekuitas perusahaan, perseroan telah mengantongi persetujuan pemegang saham serta melibatkan penilai publik independen demi memastikan prinsip keterbukaan informasi dan kewajaran transaksi (fairness opinion) terpenuhi dengan baik.

Baca juga: Tiket Presale GIIAS 2026 Dibuka Mulai Awal Juli

Di tengah bergejolaknya geopolitik global serta belum membaiknya daya beli masyarakat di dalam negeri, PT Langgeng Makmur Industri Tbk (LMPI) menargetkan penjualan sebesar Rp 447 miliar sepanjang tahun 2026 ini. Meskipun angka ini mengalami penyesuaian dari capaian tahun sebelumnya, perseroan berkomitmen penuh mengerahkan seluruh sumber daya agar perusahaan tetap tumbuh positif.

Direktur PT Langgeng Makmur Industri Tbk, Kosasih Koenawan menjelaskan bahwa target tersebut disusun dengan mempertimbangkan berbagai faktor eksternal yang dinamis demi menjaga keberlanjutan bisnis di tengah ketidakpastian ekonomi makro dan dinamika industri manufaktur yang menantang.

"Meski dibayangi oleh tren penurunan dari tahun lalu, perseroan menegaskan tidak akan bersikap pasif. Sebaliknya, manajemen melihat setiap tantangan sebagai momentum untuk melakukan transformasi internal dan mempertajam penetrasi pasar," ujar Kosasih pada paparan publik perseroan usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan RUPS Luar Biasa Perseroan di Sidoarjo, Selasa (30/6/2026).

Dikatakannya, salah satu peluang strategis yang akan dimaksimalkan tahun ini adalah gejolak nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS. Bagi perusahaan manufaktur yang berorientasi lokal, depresiasi mata uang merupakan tekanan, namun bagi lini bisnis ekspor perseroan, momen ini menjadi peluang untuk memperluas pasar ekspor khususnya di kawasan Asia.

Sepanjang tahun 2025, perseroan mencatat penjualan sebesar Rp 472 miliar, turun sebesar Rp49 miliar atau terkontraksi 9,51% dibandingkan penjualan tahun 2024 yang sebesar Rp521 miliar. Penurunan ini utamanya dipicu oleh melambatnya aktivitas ekonomi domestik yang menekan volume serapan pasar.

Secara rinci, performa pasar domestik terkikis 9,74% atau menyusut Rp51 miliar, dari Rp519 miliar pada 2024 menjadi Rp469 miliar di sepanjang 2025. Penurunan ini bersumber dari divisi peralatan dapur aluminium yang membukukan penjualan Rp238 milar, atau turun 7,24%. Divisi peralatan rumah tangga plastik juga terkoreksi 15,67% menjadi Rp96 miliar, disusul lini bisnis pipa, fitting, dan profil yang melandai 10,54% ke angka Rp129 miliar.

Baca juga: PT Suparma Tbk Bagikan Deviden Saham Sebesar 1.230.095.230 Lembar

Namun, di balik koreksi pasar domestik, kinerja ekspor perseroan justru moncer. Penjualan ke luar negeri melesat signifikan sebesar 42,44%, naik dari US$0,144 juta pada tahun 2024 menjadi US$0,190 juta pada tahun 2025. Produk-produk unggulan perseroan kini semakin kokoh mencengkeram pasar regional Asia, kawasan Timur Tengah, hingga merambah Australia.

Corporate Secretary Perseroan, Henri Subiyanto menjelaskan, pada kuartal pertama tahun 2026, perseroan berhasil membukukan penjualan bersih sebesar Rp69 miliar atau masih mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun lalu. Kontribusi terbesar masih disokong oleh divisi peralatan dapur aluminium senilai Rp26 miliar dan divisi peralatan rumah tangga plastik sebesar Rp20 miliar. Secara akumulatif, kedua divisi ini mendominasi dan menguasai 67�ri total penjualan bersih perusahaan.

"Kinerja triwulan pertama 2026 ini belum sepenuhnya optimal akibat terganggunya rantai pasok bahan baku plastik dan PVC. Selain masalah logistik bahan baku, daya beli konsumen di sektor domestik yang masih cenderung lemah turut memberikan tekanan ekstra terhadap ritme penjualan produk-produk konsumer perseroan," ungkapnya.

Kondisi ini kian diperparah oleh volatilitas harga komoditas global. Bahan baku berbasis minyak bumi untuk plastik dan PVC sempat melonjak drastis hingga melampaui 100%, sementara harga aluminium dunia ikut terkerek naik hingga 50%. "Meski demikian, perseroan memilih kebijakan untuk tidak serta-merta menaikkan harga jual demi menjaga loyalitas konsumen, sembari terus memantau pergerakan kompetitor," tandas Henri.

Baca juga: DPRD Surabaya Beri Tenggat Satu Bulan Manajemen Soto Boyolali Kenjeran untuk Lengkapi Perizinan

Meski harus menghadapi kondisi pasar yang masih penuh tantangan, perseroan telah menyiapkan tujuh strategi terintegrasi. Diantaranya dengan meningkatkan komunikasi intensif dengan pelanggan untuk menjaring perubahan selera pasar serta melakukan perbaikan mutu berkesinambungan. Strategi ini diharapkan mampu memperkuat branding produk rumah tangga maupun pipa di mata publik.

Untuk divisi pipa dan fitting, perseroan secara agresif menambah variasi produk dan ukuran. Langkah ini diambil guna menangkap peluang dari masifnya proyek-proyek infrastruktur yang digulirkan oleh pemerintah maupun sektor swasta. Sementara di divisi plastik, perseroan menggeser fokus untuk menjangkau segmen pasar menengah ke atas melalui produk yang lebih fashionable dan bernilai tambah tinggi.

"Inovasi dan diversifikasi produk juga terus digenjot untuk pengembangan pasar baru, dibarengi dengan komitmen menjaga kualitas ketat dari proses produksi hingga ke tangan konsumen. Perseroan juga aktif menjalin kemitraan strategis dengan pelanggan potensial di sektor industri, serta menjalankan efisiensi di semua lini melalui optimalisasi aset demi meningkatkan keunggulan kompetitif," tutur Henri (Sha)

Editor : redaksi

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru