Swaranews.com - Putaran waktu tak terasa. Dua tahun sudah karibku Sugianto atau Pak Gie kembali kepada sang Khalik. Kepergiannya menghadap llahi Rabbi kala itu, menyiratkan kedukaan di keluarga besar Swaranews.
Media cetak yang dirintisnya kurang lebih 10 tahun lebih harus ditinggalkan dalam kondisi berjalan perlahan. Kondisi itu, memang betul adanya. Karena apa? Pak Gie yang bernama panjang Sugianto Subijanto Hartawan, tidak hanya mempertahankan idealisme juga komitmen menjadi koran lokal yang disegani.
"Meski koran kita kecil, tapi harus berkarakter," ujar Pak Gie pada kesempatan kami ngobrol santai.
Sosok yang sejak duduk di bangku kuliah bukan sosok yang pantang menyerah, begitupun ketika harus mengembangkan "Swaranews" ibarat balita untuk bisa bejalan, berbicara hingga berinteraksi.
Memang sepeninggal Pak Gie, awalnya terasa ada beban yang harus dipikul oleh para penerus "Orang-Orang Militan" yang telah medapatkan bimbingannya untuk menggerakkan dan mempertahankan kiprah SN di jagad persurat kabaran di tengah gencarnya serbuan medìa online.
Namun, berdasarkan pesan yang tak tersurat, pentingnya melestarikan keberadaan Swaranews, keluarga besar SN, Ibu Ade, Pak Yustinus dan Cak Amar, Sun Go Kong, saya sendiri, Prof Gempur Santosa dan Doktor Dimam Abror berupaya sekuat daya dan tenaga agar koran hasil perjuangan Pak Gie ini bisa bertahan.
Bersyukur, dengan segala daya upaya dibarengi tantangan yang semakin menghadang, pewaris SN tetap akan bertahan dan melengkapi tuntutan era digital. Hanya untaian doa yang selalu kami panjatkan agar Pak Gie mendapatkan tempat terbaik disisinya dan eksistensi Swaranews semakin gemilang. Semoga tetap seger Waras.
Konco Karib Pak Gie.
In memoriam 22 September 2020.
Editor : redaksi