Infrastuktur Digital Masih Jadi Masalah Besar Dunia Pendidikan Tinggi

swaranews.com

Baca juga: M. Faridz Afif Resmi Pimpin DPC PKB Surabaya Periode 2026-2031, Targetkan Kejayaan di Pemilu 2029

Swaranews.com - Mencetak generasi bangsa yang mampu bersaing di era digital seperti saat ini, memerlukan dukungan fasilitas teknologi dan jaringan internet yang mumpuni. Ada berbagai manfaat yang menanti para pengguna teknologi, mulai dari kemampuan untuk mengakses berbagai macam pengetahuan, buku, hingga membantu pengelolaan kampus.
 
Oleh karena itu, tak sedikit perguruan tinggi yang telah mencanangkan transformasi digital di kampusnya. Namun, rencana digitalisasi tak jarang berhenti menjadi wacana karena satu hal, yaitu masalah infrastuktur. Terlebih bagi perguruan tinggi yang ada di luar pulau Jawa, dimana infrastruktur yang masih minim.
 
Walaupun masalah infrastuktur adalah masalah besar dan sudah terjadi sejak lama di Indonesia, bukan berarti hal ini tidak ada solusinya. Salah satu solusi tersebut adalah sistem akademik berbasis Cloud (komputasi awan).
 
Dengan sistem akademik berbasis Cloud, data dan aplikasi perguruan tinggi seolah-olah akan disimpan di awan. Awan tersebut berupa kumpulan server dari penyedia layanan Cloud, yang telah terjamin jaringan infrastuktur, listrik, serta keamanan datanya. Sehingga perguruan tinggi bisa memiliki sistem akademik tanpa perlu harus mengembangkan server dan infrastuktur jaringannya sendiri.
 
Penggunaan sistem Cloud kini telah menjadi tren baru. Senada dengan hal itu, Plt Direktur Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Dr. Sri Gunani Partiwi  mendorong semua civitas akademika untuk melakukan akselerasi digital. Kemendikbudristek sendiri juga menyiapkan berbagai platform digital untuk memfasilitasi seluruh sistem pendidikan.
 
"Kebutuhan digital tidak bisa dihindari. Kemendikbudristek memfasilitasi sistem pembelajaran daring (SPADA), sistem informasi kelembagaan, sampai kerjasama dengan mitra untuk pelatihan digital lewat program Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Sudah banyak mahasiswa ikut pelatihan dan sertifikasi terkait Cloud," kata Sri Gunani, Sabtu (15/10/2022)
 
Sementara itu, Direktur Operasi Pos Indonesia Hariadi juga mengatakan pihaknya telah melakukan transformasi digital untuk menjawab tantangan zaman. Bahkan kini semua layanan yang ada di Pos Indonesia sudah bisa diakses melalui aplikasi dan mendukung kebutuhan dunia pendidikan.
 
"Sejak 2021 kami sudah mencanangkan 7 program transformasi digital. Bahkan saat pandemi mencoba hybrid, semua layanan tersedia di aplikasi baik logistik maupun jasa keuangan, termasuk pembayaran uang kuliah (UKT/SPP) beberapa kampus sudah bisa dilakukan lewat aplikasi kantor pos yang berbasis Cloud," kata Hariadi memungkasi. (res)

Editor : redaksi

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru