Barikade 98 Jawa Timur Bela Gibran

swaranews.com

Swaranews.com - Pendapat Politisi Senior PDI Perjuangan, Panda Nababan yang menyatakan bahwa Walikota Solo Gibran Rakabuming Raka di bawah umur, mendapatkan perlawanan dari Barikade 98 Jawa Timur.

Seperti disampaikan oleh Sekretaris DPW Barikade 98 Jawa Timur, M. Annis Saumiyanto bahwa walau masih muda, Gibran Rakabuming Raka telah telah meraih banyak prestasi.

"Salah satunya menjadikan Kota Solo lebih baik di berbagai sektor atau bidang pembangunan. Tidak hanya memperbaiki infrastruktur, namun yang tak kalah pentingnya adalah meningkatkan taraf hidup masyarakat Solo," ujar Annis melalui pesan digitalnya kepada Swaranews.com, Minggu (2/7/2023).

Annis Saumiyanto mengkritiik keras Panda Nababan selaku Politikus senior yang tergagap dengan Politikus Muda. Karena mencibir Gibran dengan sebutan "Anak Ingusan". Hal itu terlontar dalam diskusi Adu Perspektif detikcom dan Total Politik, beberapa waktu lalu.

"Gibran anak ingusan kok, gimana? Nanti anak itu besar kepala, masih belajar dulu lah," kata Panda Nababan politikus gaek PDIP tersebut.

Menanggapi hal itu Annis menegaskan bahwa gaya kolot
politikus gaek yang tergagap melihat realitas politik kaum muda yang diperspektifkan dengan jamannya sangat tidak relevan.

"Republik ini dibangun oleh anak-anak muda yang berani memimpin pada saat negara ini lahir," paparnya.

Annis menilai, para pemuda itu mampu membikin konsep bernegara, memimpin dan menjalankan negara ini. Dengan melewati sekian banyak tantangan yg berat, sehingga sampai detik ini apa yg sudah dipikirkan dan dikerjakan para pemuda di awal kemerdekaan itu bisa menjadi pondasi kokoh sebuah negara.

"Jangan meremehkan kaum muda dengan pemikiran, kepemimpinan dan gaya berpolitiknya, akan tetapi lihatlah hasil dari apa yang dikerjakan. Gibran sebagai Walikota Solo telah banyak mengubah kota Solo menjadi lebih baik, dari infrastruktur sampai taraf hidup warganya. Gibran telah mengubah cara memimpin yg dulunya kolot, birokratis yang bertele-tele, slow respon, kurang inovatif menjadi hal yg sebaliknya," beber Andhonk sapaan akrab Annis Saumiyanto.

Menurutnya, kita tak bisa membatasi politik sebagai milik kawula muda, kaum oldman seperti Panda Nababan, atau hanya milik para politikus yang tak jelas ada dimana. Sejauh Ia menyentuh, dalam makna kemaslahatan kolektif adalah wajar menjadi kesadaran bersama. Serta tidak dibiarkan dan dikelola begitu saja oleh politikus yang hanya bicara soal siapa dapat apa, berapa, kapan, dimana dan bagaimana.

"Mungkin, salah satu kendala politikus gaek macam Panda Nababan ini adalah pengetahuan yang minim soal isu yang ditangkap cepat tanpa tepisan ilmu yang mendalam. Apalagi jauh dari kearifan dan kebijaksanaan. Disitu rasionalitas kritik seringkali diganggu oleh emosionalitas yang meluap. Padahal kritisisme adalah produk filsafat yang langka," imbuhnya.

Tak hanya itu, lanjut Andhonk, dan untuk soal kematangan mental, itu sama dengan perasaan kita pada soal politik, seringkali tak memedulikan usia, profesi, gender, dan ras. Hal tersebut, selalu muncul dalam ketidakseimbangan penilaian yang menempatkan kita secara subjektif.

"Saran kami Panda Nababan harus baca - baca lagi buku Sejarah Perubahan sebuah Bangsa. Motornya adalah anak-anak muda. Panda Nababan kami sarankan juga untuk banyak berkumpul dengan anak-anak muda hari ini. Tidak hanya bicara di etalase elit politik saja," tukasnya. (mar)

Baca juga: Risma Temui Relawan di Lamongan, Bahas Solusi untuk Jawa Timur yang Lebih Baik

Editor : redaksi

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru