PT Suparma, Tbk Membenamkan Investasi senilai USD 23Juta Guna Meningkatkan Kapasitas Produksi Tissue

swaranews.com
Direktur PT Suparma, Tbk Hendro Luhur, menjelaskan keunggulan produk kertas kepada Subiantara,Komisaris perseroan. / Foto: Shanty

Swaranews.com - Kendati perekonomian global masih bergejolak, PT Suparma,Tbk berancang-ancang membenamkan investasi senilai USD 23 Juta akhir tahun ini. guna meningkatkan kapasitas produksi tissue. Mengingat, ceruk pasar produk tissue di dalam negeri masih terbuka lebar,sehingga perseroan memutuskan untuk menambah kapasitas produksi kertas tissue yang menjadi salah satu produk andalannya.

Direktur PT Suparma Tbk, Hendro Luhur usai paparan publik siang tadi (Senin,25/112024) menjelaskan, tahun ini perseroan bakal menambah investasi untuk paper machine (PM) 11 yang akan memproduksi kertas tissue. Kapasitas produksi PM 11 akan meningkat sebesar 27.000 metrik ton (MT) atau akan menambah kapasitas produksi tissue sebesar 10-11 persen.

Baca juga: Cara VinFast Membantu Pengemudi Indonesia Meningkatkan Pendapatan Melalui Kendaraan Listrik

"Dari total nilai investasi sebesar USD 23 Juta tersebut, sekitar 22 persen diambilkan dari kas internal, dan sisanya sebesar 78 persen dari pinjaman bank. Saat ini sudah ada komitmen dari beberapa bank untuk pinjaman jangka panjang," ungkap Hendro Luhur

Dikatakan Hendro, keberanian perseroan berinvestasi mesin tersebut didasari oleh masih besarnya ceruk pasar produk tissue di tanah air. Selain populasi penduduk Indonesia yang cukup besar, tingkat konsumsi tissue di Indonesia masih kecil atau hanya 0,5 kilogram (kg) tissue per kapita per tahun. Jauh lebih kecil dibanding Singapura yang sebesar 27 kg per kapita per tahun, atau Malaysia yang konsumsi kertas tisunya sekitar 21,5 kg per kapita per tahun.

Di sisi lain menurut Hendro Luhur, dengan hanya mengandalkan dua mesin produksi tisu, perseroan memiliki keterbatasan pasar dalam menjual produknya saat ini. Yakni di segmen hotel, restoran dan kafe (Horeka) serta beberapa ritel modern.

"Ini menjadi opportunity bagi perseroan untuk menambah kapasitas produksi, agar bisa memaksimalkan potensi pasar. Pasalnya, animo konsumen terhadap produk tisu merek Plenty dan See-U milik perseroan cukup besar," ungkapnya.

Selain kertas tissue, selama ini Suparma memproduksi kertas, duplex, laminated wrapping kraft (LWK) atau kertas bungkus cap Gajah. Meski di sektor industri kertas mengalami pertumbuhan 4,52% pada kontestasi politik 2024, Suparma tidak kebagian kue secara langsung karena tidak memproduksi kertas untuk surat suara.

“Namun, secara tidak langsung penjualan produk LWK serta tissue meningkat karena banyaknya kegiatan menjelang kontestasi politik 2024,” ujar Hendro

Sementara itu berdasarkan laporan keuangan perseroan, penjualan bersih Suparma selama periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2024 sebesar Rp 1,96 triliun atau mengalami sedikit peningkatan dibandingkan dengan penjualan bersih pada periode yang sama tahun 2023. Kenaikan penjualan bersih tersebut disebabkan oleh kenaikan kuantitas produk kertas sebesar 4,6%. Pencapaian ini setara dengan 72,7�ri target penjualan bersih Perseroan yang sebesar Rp 2.700 miliar.

Baca juga: BYD Tech Culture Fest 2026 Melanjutkan Perjalanan Elektrifikasidi Sirabaya

Sedangkan untuk pencapaian penjualan bersih hingga 31 Oktober 2024 sebesar Rp 2,2 triliun dimana pencapaian ini setara dengan 81,6�ri target penjualan tahun 2024 yang sebesar Rp 2,7 triliun.

Jika dilihat dari kuantitas penjualan kertas perseroan hingga akhir September 2024 sebesar 164.295 MT, mengalami peningkatan 4,6% dibanding periode yang sama tahun 2023 yang sebesar 156.995 MT. Sedangkan pencapaian kuantitas penjualan kertas hingga 31 Oktober 2024 sebesar 184.766 MT atau setara dengan 82,2�ri target kuantitas penjualan kertas tahun 2024 yang sebesar 224.900 MT.

Di sisi lain, laba periode berjalan selama sembilan bulan tahun 2024 mengalami penurunan sebesar Rp 28,9 miliar atau 20,1% menjadi Rp 114,9 miliar yang terutama disebabkan peningkatan beban pokok penjualan sebesar Rp 46,2 miliar yang menyebabkan penurunan laba kotor sebesar Rp 36,6 miliar dan penurunan margin laba kotor menjadi 16,3�ri periode yang sama tahun lalu sebesar 18,2%.

Peningkatan beban pokok penjualan disebabkan oleh naiknya pemakaian bahan baku, terutama meningkatnya kuantitas pemakaian bahan baku kertas bekas sekitar 29%.

Baca juga: Diplomasi Kuliner di Jantung Sydney, Mantan Wapres KH Ma'ruf Amin Resmikan Pandawa Warung Kopi Halal

Sedangkan pencapaian produksi kertas hingga akhir Oktober 2024 sebesar 184.240 MT atau setara dengan 82,0�ri target produksi kertas tahun 2024 yang sebesar 224.700 MT, dengan target tingkat utilisasi sebesar 73,5%.

Dengan pencapaian kinerja tersebut, Hendro Luhur optimistis perseroan akan mampu mencapai target penjualan maupun produksi hingga akhir tahun 2024"Untuk investasi Steam Boiler dari anggaran belanja modal senilai USD 10 Juta sudah terealisasi USD 8,6 Juta.Tujuan investasi ini untuk efisiensi energi yang lebih ramah lingkungan karena memanfaatkan sludge, limbah plastic serta limbah kayu untuk diubah menjadi energi panas (Sha)

 

 

Editor : amar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru