Swaranews.com - Surabaya merupakan salah satu kota bersejarah di Indonesia yang pada tahun ini telah berusia 733 tahun. Pada tanggal 31 Mei 1293 tercatat sebagai lahirnya kota Surabaya. Tanggal tersebut dianggap sebagai waktu Ketika Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit, berhasil mengusir tentara Tartar (tentara Ku Bi Lai Khan).Kota ini menjadi salah satu Pelabuhan utama Kerajaan Majapahit yang berada agak dipedalaman. Dari Pelabuhan Surabaya menuju ke pusat Kerajaan dihubungkan oleh Sungai Brantas, salah satu Sungai penting di Jawa bagian timur.
Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB Unair) Prof.Dr. Purnawan Basundoro, M.Hum pada acara sharing session yang digelar HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia ) Surabaya, 3 Juni 2026 bertempat di De Javasche Bank menyatakan, Surabaya sampai Abad ke-17 merupakan kota Pelabuhan yang telah berperan penting dalam perdagangan internasional. Kota ini telah disinggahi para pedagang dari Eropa, Arab, India, China, dan dari negara lain.
Baca juga: Cross Musea Pertiwi Pameran Kolaborasi Tiga Museum Hadir di Surabaya
Menurutnya, Surabaya yang awalnya hanya pemukiman kecil yang berada di antara Sungai Kalimas dan Pegirian, lama kelamaan berkembang menjadi kota ramai. Nama Surabaya telah disebut dalam naskah Negarakertagama, sebagai salah satu daerah yang dkunjungi oleh Raja Hayam Wuruk.
Menilik banyaknya bangunan bersejarah di Surabaya terutama di kawasan kota lama Surabaya, Purnawan meminta semua pihak untuk tetap menjaga kelestarian cagar budaya di Surabaya. Dia menyayangkan Ketika kemajuan zaman kemudian menggerus peninggalan kebudayaan berupa bangunan cagar budaya di Surabaya.
Lokasi cagar budaya yang strategis terkadang berada di tengah kota sehingga menyebabkan para investor menukarnya dengan bangunan baru. Purnawan menyesali hak itu. “Seharusnya bangunan cagar budaya dapat dijadikan penanda sejarah. Oleh karena itu, kita harus arif untuk mengelola kelestarian cagar budaya di tengah situasi yang terus berkembang dengan aspek global. Justru hal ini bisa kita tawarkan kepada masyarakat global untuk memperlihatkan kekayaan kita dalam bentuk cagar budaya,” Ujar Purnawan.
Disadari pembangunan di kota Surabaya beberapa diantaranya merusak potensi cagar budaya, maka HPI(Himpunan Pramuwisata Indonesia) Surabaya memilih De Javasche Bank sebagai tempat diskusi. Pemilihan tempat ini bukan tanpa alasan. Ketua DPC HPISurabaya dan Ketua penyelenggara “Sharing Session Kota Lama Surabaya” Agustina Setiarini menyatakan, karena tempat ini mengandung nilai historis, edukasi serta makna bagunan itu bagi Kota Pahlawan Surabaya. Disisi lain, sangat relevansi dengan tema acara HPI Surabaya. Yang paling penting adalah dukungan penuh dari Bank Indonesia untuk kegiatan literasi kami.
“Sebagai pusat aktifitas keuangan pada masa colonial, bangunan ini menyimpan banyak cerita tentang dinamika ekonomi, perdagangan dan perkembangan Kota Surabaya yang masih dapat ditelusuri melalui jejak arsitektur maupun dokumentasi sejarah yang ada,” tegas Agustina.
Kegiatan ini, kata Tina,terselenggara atas dukungan Bank Indonesia yang selama ini aktif mendorong program edukasi, literasi sejarah dan pelestarian budaya. Kolaborasi antara Bank Indonesia dan HPI Surabaya diharapkan mampu memperkuat upaya pelestarian warisan
Baca juga: Wujud Kepedulian Sosial, PAM Surya Sembada Salurkan 13 Ekor Sapi Kurban untuk Warga Kota Surabaya
sejarah sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor pariwisata.
Jika menarik garis ke belakang,sejarah Surabaya tercatat sejak Majapahit mengalami kemunduran dan muncul Kerajaan Demak di Jawa bagian tengah pada abadke-15, Surabaya muncul sebagai pusat penyebaran Islam yang dipimpin oleh Sunan Ampel. Sunan Ampel menetap di Kampung Ampel Denta yang berada di sebelah timur Sungai Kalimas.
“Surabaya periode ini berkembang menjadi kota yang dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang kebangsaan yang beragam (heterogen); Bumiputra, Eropa, Arab, Tionghoa, India, dll. Beberapa nama kampung di kawasan tersebut yang menurut johanSilas berkaitan erat dengan kekuasaan tradisional prakolonial, Maspati(h), Kepatihan (Patih), Praban (Prabu), Tumenggungan, Ketandan (Tanda: pengawal), Kranggan (Rangga: pembuat keris), Wiro (Prawiro). Nama-nama tersebut mengacu kepada pejabat kraton saat itu,” jelas Prof. Purnawan.
Sejarah Surabaya mencatat tahun1612, Hendrik Brouwer dari Belanda berhasil mendarat di Surabaya. • Ia melihat para pedagang Portugis masih mengunjungi pelabuhan Surabaya untuk membeli rempah-rempah daripenduduk setempat yang didatangkandari Kepulauan Maluku. Tahun1617, Jan Pieterszoon Coen (VOC) mendirikan rumah dagan gpertamadi Surabaya yang digunakan untuk mengumpulkan berbagai komoditas yang dibeli dari para padagang lokal.
Purnawan menyatakan, sampaiawalabadke-18, Surabaya masih dalam bayang-bayang Kerajaan Mataram.Kita bisa membaca laporan pendeta sekaligus pejabatVOC, Francois Valentijn, yang berkunjung ke kota ini pada awalabadke-18. Kesaksiannya mengenai Surabaya ditulis dalamlaporan perjalanan beliau di buku jilid 4A, Beschrijving van Groot DjavaValentijn Surabaya dihuni oleh 10 ribu keluarga. Penguasa kota ini tinggal di sebuah rumahyang sangat indah, memiliki kompleksyang megahserta kendang gajah yang besar. Jalan-jalan di kota ini lebar dan terdapat alun-alun.
“Pembangunan Kawasan Kota Lama Tahun1719. VOC membangun sebuah benteng yang diberi nama Benteng Retranchement, yang berada di tepi barat Sungai Kalimas. Benteng ini merupakan pengembangan dari Huis van den Berg, sehingga lokasinya berada di titik yang sama. Pembangunan benteng ini menandai pengembangan kawasan JembatanMerah sebagai tempat kedudukan orang-orang Belanda di Surabaya yang lebih stabil (paseban) untuk latihan perang,”Ujarnya.
Dia menambahkan,antara tempat tinggal pangeran dengan tempat tinggal utusan VOC terdapat sebuah pasar lebar, tempat orang bisa memperoleh barang dengan harga murah. Perdagangan beras dikelola oleh oarng Cina yang dipimpin oleh Tan Ke Po, sering disebut Kenio.
Dijelaskan Purnawan, Benteng Belvedere dibangun Padatahun1750. Belanda sudah berhasil menjadikanSurabaya sebagai hunian yang nyaman bagi mereka. • sebagaimana dilukis oleh A. de Nelly. Perlahan-lahan Benteng Belvedere mengalami kerusakan dan tidaklagi diperbaiki.Surabaya terdapat dua pusat perkembangan, yaitu kawasan alun-alun yang dikuasai oleh penguasa Bumiputra, dan kawasanKrembangan/Jembatan Merah yang dikuasai Belanda. Kedua kawasan tersebut masih dipisahkan oleh area yang belum terbangun (kawasanGatotandan sekitarnya)
Menurut Purnawan, pada akhirabadke-18, Surabaya dipimpin oleh Dirk Van Hogendorp dengan jabatan Gezagebberin den Oosthoek(1794-1798). Saat menjabat dia membangun rumah dinas jauh di kawasan selatan, yaitu di Simpang.Rumah dinastersebut dijuluki Tuinhuis atau Rumah Taman, karena dibangun di tengah kebun yang luas.Antara rumah dinas dengan kantor yang masih berada di area Krembangan tentu saja dihubungkan dengan jalan raya.
Keberadaan jalan raya itulah, kata Pornawan, yang mendorong munculnya bangunan.Pelan-pelan Surabaya memperoleh fungsi ekonomi yang tinggi, sehingga pelabuhannya berfungsi sebagai Pelabuhan ekspor dan impor. Beberapa komoditas yang dikirim melalui Pelabuhan Surabaya antara lain: beras, indigo, kopi, gula, teh, dan lain-lain.Muara Sungai Kalimas dibangun dan dijadikan Pelabuhan untuk bersandar kapal-kapal. Perahu-perahu kecil bahkan bisa masuk sampai ke sekitar JembatanMerah.
Purnawan menyatakan, Kota Jakartya memiliki Kota Tua sebagai destinasi wisata sejarah yang popular, kini Surabaya memiliki Kota Lama yang terbagi atas beberapa kawasan.Mulai kawasan Pecinan, Arab hingga Eropa. Kawasan di Jalan Rajawali dekat Jembatan Merah dipenuhi dengan bangunan-bangunan bernuansa Eropa yang dulunya diisi berbagai aktivitas colonial mada masanya.
Baca juga: Partai Demokrat Surabaya Bagikan Setibu Paket Daging Kurban
“Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya telah memiliki banyak bangunan konvensional modern di berbagai titik kotanya. Namun, sebagai kota Pahlawan, Surabaya tidak pernah menghapuskan nilai-nilai historical yang pernah hidup di kotanya,”tutur Purnawan.
Bangunan-bangunan yang ada perlu dipertahankan corak ataupun gaya bangunannya yang merupakan salah satu cagar budaya yang dimiliki. Untuk itu, sebagai pemerhati sejarah perkotaan,Prof Purnawan berkontribusi dalam pemertahanan cagar budaya dari bangunan-bangunan yang ada di kawasan Kota Lama.
Sebagai ahli sejarah perkotaan, Prof Purnawan mengusulkan penataan wilayah bersejarah yag lebih terintegrasi sesuai tema dari aspek kesejarahannya yang dapat menjadi satu kesatuan sehingga lebih memikat wisatawan yang berkunjung ke Surabaya. Misalnya ada tema perkantoran, religi, perdagangan yang berupa pasar-pasar tradisional, transportasi darat maupun sungai, tema etnis dan tema perkampungan yang ada di Surabaya, sehingga menjadi satu kesatuan. (Sha)
Editor : redaksi