Pemkot Surabaya Dampingi Korban Amputasi Ponpes Al Khoziny, Fokus Psikis hingga Karier

Reporter : amar
WalikotaEri Cahyadi didampingi Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Bahtiar Rifa'i. (Kominfo Kota Surabaya)

Swaranews.com -  Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berkomitmen untuk memberikan pendampingan bagi warga yang menjadi korban ambruknya bangunan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo. Pendampingan itu dilakukan terutama terhadap korban yang terpaksa diamputasi tangannya demi kepentingan evakuasi dan penyelamatan nyawa.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menegaskan pemkot tidak akan lepas tangan terhadap nasib warganya yang mengalami musibah berat tersebut.

Baca juga: Aktivasi IKD di Surabaya Naik Sekitar 1-3 Persen Setiap Bulan

"Terkait dengan korban, khususnya warga Surabaya yang mengalami amputasi akibat insiden di lokasi tersebut, pemerintah kota akan memberikan pendampingan penuh," ujar Wali Kota Eri, Senin (13/10/2025).

Wali Kota Eri menjelaskan, pendampingan yang diberikan tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik, tetapi juga aspek mental dan kejiwaan, mengingat trauma yang dialami korban dan keluarga sangat besar.

Baca juga: Hotline Warga Jangan Berhenti di Kelueahan, Anas Karno Minta Terhubung hingga RT/RW

"Kami akan memprioritaskan pendampingan psikologis bagi korban dan keluarga. Langkah awal ini sangat krusial. Setelah kondisi psikis korban berangsur membaik, stabil, dan ia bisa kembali normal, barulah kami akan melanjutkan dengan program pendampingan yang bersifat jangka panjang," jelasnya.

Ia memahami kondisi fisik korban saat ini akan sangat mempengaruhi keberlanjutan hidup dan prospek pekerjaan di masa depan. Oleh karena itu, Pemkot Surabaya berkomitmen untuk merencanakan masa depan korban secara matang.

Baca juga: Disdukcapil Genjot IKD

Semua rencana pendampingan komprehensif ini dilakukan mulai dari pemulihan mental hingga penentuan jalur pendidikan dan karier. Bahkan, pihaknya juga akan mendiskusikan secara mendalam dengan keluarga korban.

"Kami memahami bahwa kondisi ini sangat berat, dan tentu saja akan berdampak pada keberlanjutan hidup dan pekerjaan korban. Karena itu, kami akan memikirkan masa depannya, termasuk memastikan pendidikan korban tetap berjalan hingga lulus, dan setelah itu, terkait peluang kerjanya," pungkasnya. (Mar)

Editor : redaksi

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru