Siantar Top Tbk Mematok Kenaikan Penjualan Dua Digit Tahun 2026

avatar Shanty

Swaranews.com - Di tengah gejolak ekonomi global yang dibarengi anjloknya nilai tukar Rupiah menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS , PT Siantar Top Tbk (STTP) menyatakan optimismenya mencapai peningkatan baik penjualan maupun laba bersih sekitar dua digit. Perusahaan manufaktur makanan ringan ini tetap mematok target pertumbuhan yang ambisius sepanjang tahun 2026.

Direktur Utama PT Siantar Top Tbk, Armin menegaskan bahwa perusahaan belum melakukan koreksi terhadap target kinerja meskipun kondisi geopolitik dan makro ekonomi sedang tidak menentu. Hal ini didasari oleh performa perusahaan yang tetap terjaga di awal tahun 2026 ini.

Baca Juga: Surabaya Shoping Festival 2026 Tebar Promo Belanja hingga Medical Tourism

"Kami masih sangat optimis. Sampai saat ini belum ada koreksi target penjualan maupun laba karena kita melihat pertumbuhan masih berjalan positif, terutama didorong oleh pasar internasional," ujar Armin pada public expose usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan perseroan di Surabaya, Jumat (5/6/2026).

Perseroan memproyeksikan pertumbuhan penjualan dan laba bersih di angka dua digit hingga akhir tahun 2026. Target ini dianggap realistis mengingat strategi efisiensi dan ekspansi pasar yang terus berjalan meski beban biaya produksi mengalami lonjakan.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, sepanjang tahun 2025 perseroan membukukan penjualan bersih sebesar Rp 5,24 triliun, naik dibanding penjualan bersih tahun sebelumnya yang sebesar Rp 4,96 triliun. Sedangkan laba bersih tahun 2025 sebesar Rp 1,18 triliun. Sampai dengan Mei 2025, penjualan perseroan tumbuh 5 persen lebih dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini salah satunya didorong oleh pertumbuhan penjualan ekspor.

Tantangan utama yang dihadapi perusahaan saat ini adalah kenaikan beban biaya produksi yang mencapai hampir 10%. Kenaikan ini dipicu oleh melambungnya harga bahan baku utama seperti tepung terigu, minyak goreng, dan material kemasan yang sangat bergantung pada pergerakan dolar AS.

Baca Juga: Kembalikan Estetika Kuliner Tradisional Hotel Quds Royal Luncurkan Festival Pecel Pincuk Suroboyo

Armin menegaskan, bahwa selain harga yang naik, perusahaan sempat menghadapi tantangan kelangkaan material kemasan (packaging) pada beberapa bulan lalu. Namun, tim internal perusahaan berhasil mengatasi risiko tersebut sehingga pasokan tetap terpenuhi.

Mengenai kebijakan harga, Suwanto menekankan bahwa perusahaan berupaya memberikan yang terbaik bagi konsumen dengan menahan kenaikan harga produk sebisa mungkin. Penyesuaian harga hanya akan menjadi pilihan terakhir jika situasi pasar sudah dianggap tidak kondusif lagi.

"Kami melakukan review secara berkala. Selama masih bisa kita tahan, akan kita tahan demi menjaga daya beli konsumen. Kami terus memantau sejauh mana dolar akan bergerak sebelum mengambil keputusan penyesuaian," jelas Suwanto.

Baca Juga: LEPAS Resmikan LEPAS MAS Pluit

Untuk mengimbangi tekanan biaya, perusahaan melakukan strategi substitusi bahan baku dengan mencari sumber (sourcing) yang lebih kompetitif. Salah satu langkahnya adalah

mprioritaskan bahan baku dari negara-negara ASEAN yang secara geografis masih terjangkau.
Selain itu, efisiensi logistik menjadi senjata utama perusahaan dalam menekan biaya operasional. Armin menjelaskan bahwa perusahaan telah mengoptimalkan kapasitas muatan (loading) pada setiap pengiriman untuk menghemat biaya transportasi.
"Kami melakukan optimalisasi muatan, misalnya yang dulu isinya 60 kita tingkatkan menjadi 80, dan yang 80 menjadi 100. Langkah ini sangat membantu dalam menekan biaya angkut di tengah kenaikan harga BBM dan logistik," ungkap Armin.
Direktur  Bisnis dan Marketing PT Siantar Top Tbk, Suwanto menambahkan, di pasar domestik, strategi pemerataan produk dilakukan melalui pembangunan jaringan depo di berbagai wilayah. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi biaya-biaya yang tidak efisien dalam jalur distribusi sekaligus memperluas jangkauan pasar hingga ke pelosok.
Fokus perusahaan kini juga semakin besar pada pasar ekspor. Per Mei 2026, komposisi ekspor telah mencapai angka 20�ri total penjualan, meningkat dibandingkan tahun lalu yang berada di kisaran 18,9%. Pertumbuhan di pasar internasional ini tercatat mencapai angka dua digit.
Wilayah Asia dan Timur Tengah masih menjadi pasar ekspor utama yang terus diperkuat. Meski pasar Timur Tengah sempat terganggu oleh kendala pengiriman (shipment) akibat konflik geopolitik, namun perseroan telah memiliki strategi mitigasi yang matang.
Tantangan di Timur Tengah mencakup keterbatasan kapal (vessel) dan rute pengiriman yang harus memutar melalui Afrika, yang berdampak pada kenaikan biaya angkut (freight cost). Namun, perusahaan terus memberikan dukungan kepada para distributor di sana agar bisnis tetap berjalan.
"Kami bekerja sama dengan distributor untuk mengantisipasi stok. Saat kapal tersedia, mereka akan mengimpor dalam jumlah lebih besar agar tidak terjadi kekosongan barang di pasar jika terjadi hambatan pengiriman berikutnya," kata Suwanto.
Selain pasar tradisional, PT Siantar Top Tbk juga mulai memperkuat penetrasi di pasar Kanada dan Amerika Serikat. Perseroan melihat potensi besar di wilayah tersebut untuk menyokong target pertumbuhan jangka panjang.
"Pengalaman menghadapi pandemi Covid-19 menjadi modal berharga bagi manajemen dalam menavigasi krisis saat ini. Perseroan merasa sudah teruji menghadapi lonjakan biaya logistik dan ketidakpastian global yang serupa pada masa pandemi lalu," tutur Suwanto.
Sejauh ini, manajemen menyatakan bahwa margin keuntungan perusahaan masih berada dalam kategori aman. Strategi diversifikasi pasar dan efisiensi internal terbukti efektif dalam menjaga stabilitas keuangan perusahaan di tengah depresiasi rupiah. (Sha)

Berita Terbaru