Menyulap Sampah Menjadi Energi Trrbarukan Dengan SK Langit

avatar swaranews.com

Swaranews.com - Sebagian besar masyarakat selama ini pasti banyak yang menganggap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) identik dengan tempat yang kotor, kumuh, jorok dan juga bau. Tetapi hal ini tidak berlaku ketika masyarakat mengunjungi TPA Wisata Edukasi Talangagung yang berada di daerah Kepanjen Kabupaten Malang. luas TPA ini kurang lebih 2.5 hektar.

Adalah Dr. Ir Koderi M.Ling yang menyulap sampah di TPA Talangagung menjadi sumber energi terbarukan yang bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar TPA. Berkat kegigihannya Doktor lulusan Teknologi Lingkungan Universitas Brawijaya ini berhasil meraih penghargaan Kalpataru Tahun 2013 lalu.

Nah mengapa dan bagaimana Koderi mampu menyulap sampah menjadi energi sehingga Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Talangagung berhasil disulap menjadi tempat wisata yang layak untuk dikunjungi?berikut wawancara Swaranews dengan sosok peraih Kalpataru yang ramah ini.

Apa yang sebenarnya anda dapatkan dari kerja keras meyulap TPA menjadi wisata edukasi dan menghasilkan energi terbarukan bagi warga sekitar TPA?

SK (Surat Keputusan) saya adalah SK Langit. Bagi saya, sampah adalah rezeki dari Tuhan yang mempunyai potensi besar sebagai sumber energi terbarukan. Upaya ini telah mengantarkan TPA Wisata Edukasi Talangagung Kepanjen meraih penghargaan Top 25 Inovasi Pelayanan Publik 2015 dari Menteri PAN dan RB .

Selain itu juga saya mendapatkan Penghargaan Kalpataru tahun 2013 yang di serahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kategori Pengabdi Lingkungan Hidup.

“Bagi saya bukan penghargaan yang dikejar tapi kebahagiaan berbagi untuk semua. Berproses bersama dalam kebaikan dan kemaslahatan masyarakat. Makanya saya sampaikan SK saya dalam pengabdian di dunia sampah ini SK Langit,” ujarnya sambil tertawa.

Bermula dari rutinitas pekerjaannya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dinas Kebersihan tahun 1995 mulai akrab dengan sampah dengan SK Bumi, begitulah Sarjana Teknik Mesin Jebolan Institut Teknologi Nasional (ITN) tahun 1988 ini menyebutnya. Hingga akhirnya tahun 2008 ditugaskan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Talangagung Kepanjen.

“Prinsip kerja saya sebagai PNS maupun pengabdi sampah cuma bermodal 3K. Kesungguhan, Kejujuran dan Ketulusan,” ucap Koderi.

Bagaimana awal TPA Talangagung bisa disulap menjadi wisata edukasi dan menghasilkan energi terbarukan?

Dengan modal 3K ini, saya menekuni rutinitas kerja dan di tahun 2008 saat saya bertugas di TPA Talangagung, Undang-Undang (UU) Nomor 8 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah lahir. Regulasi ada, ruang observasi sampah ada dan dorongan Bupati serta dinas terkait mendukungnya. Akhirnya saya berinisiatif untuk melakukan pengelolaan sampah di TPA Talangagung sesuai dengan amanah UU tersebut.

Harapan saya sampah dari hulu sampai hilir bisa aman bagi masyarakat dan memberikan nilai ekonomis.

Berapa rata-rata sampah yang dibuang ke TPA Talangagung?

Dengan jumlah sampah yang diantar ke TPA Talangagung setiap harinya sebanyak 190 meter kubik dari berbagai kecamatan di wilayah Malang Selatan, Hal ini mendorong saya berpikir untuk menerapkan prinsip 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle) dengan Sistem persampahan semi sanitary landfill dan semi control landfill. Dengan harapan tumpukan sampah yang mengandung gas jahat methan sebagai polutan perusak atmosfir kalau dibiarkan, bisa diminimalisir dan bisa dimanfaatkan. 

Dengan modal awal berapa anda memulai memanfaatkan sampah menjadi energi terbarukan? Dengan bantuan dana Rp 400 ribu dari Dinas Lingkungan Hidup saya mulai melakukan observasi dengan membeli pipa dan alat lainnya dalam rangka menangkap gas methan menjadi sumber bahan bakar alternatif untuk masyarakat. Gas methan yang mempunyai kalori ini disalurkan ke pipa-pipa hingga bermuara di Flaring gas.

Dulu, masyarakat antri ambil gas dengan plastik ampul untuk bahan bakar memasak, Tidak puas hanya dengan menangkar gas methan menjadi bahan bakar alternatif, Koderi mendapatkan “ilham” untuk terus mengembangkan TPA Talangagung menjadi lebih bermanfaat, bernilai dan tentunya mengurangi polutan yang merusak lingkungan sekitar. A

yang ada di benak anda saat mengembangkan TPA Talangagung menjadi wisata edukasi?

Bayangan orang kalau dengar TPA pasti tempat kotor, bau, vektor penyakit. Karena itu saya bersama pak  Romdhoni, pak Renung dan Pak Rudi membahas masa depan TPA dan sepakat menambahka kalimat Wisata Edukasi. Gayung bersambut, pemerintah mengeluarkan kebijakan keuangan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk lingkungan hidup.

"Membuka jalan bagi saya untuk lebih berinovasi dalam mewujudkan TPA Wisata Edukasi Talangagung. Pipanisasi gas methan ke rumah-rumah warga sekitar sejumlah 250 Rumah Tangga, pengolahan air lindi dan air hasil limbah, Instalasi Pengolahan Air Sampah (IPAS), Bank sampah dan tentunya Ruang Terbuka Hijau (RTH) mengantarkan setiap pengunjung untuk menikmati dan belajar tentang pengolahan sampah yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis dalam rangka membantu perekonomian warga sekitar," papar koderi.

Apakah Ilmu yang anda miliki juga anda duplikasikan ke daerah lain?

Keilmuan dan pengalamannya saya sebagai pengabdi telah dirasakan sekitar 60 lebih Kabupaten/Kota di Indonesia. Karya saya telah diduplikasi oleh berbagai kalangan dalam dan luar negeri. Sekitar 2.777 kompor gas methan dari limbah sampah hasil pemikiran saya telah dipergunakan oleh masyarakat.

Apa sebenarnya yang ingin anda raih saat ini?

Sekali lagi karena SK saya SK langit, maka bukan uang dan penghargaan yang saya cari. Siapapun boleh mengundang saya untuk belajar bersama tentang sampah, tanpa perlu bayar. Saya sudah bahagia kalau yang pernah belajar dengan saya akhirnya menjadi lebih baik dan inovatif, seperti Kabupaten Tulungagung yang pernah mendapatkan Adipura Kencana karena pernah belajar disini.

TPA Talangagung secara geografis berbatasan dengan di sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Pakisaji, di sebelah selatan beratasan dengan Kecamatan Pagak, di sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Gondanglegi dan Kecamatan Bululawang, dan disebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Kromengan dan Kecamatan Ngajum.

 Anda sudah mengantarkan desa Talangagung sebagai desa mandiri energi?

Desa Talangagung disebut sebagai Desa Mandiri energi pro iklim karena desa ini mampu mengubah sampah sebagai sumber energi alternatif biogas dan menghasilkan gas methan yang sangat berguna untuk memasak dan kebutuhan listrik, dan dari pihak TPA sendiri tidak memungut biaya sepersen pun dalam memberikan manfaat dari apa yang dihasilkan oleh TPA itu sendiri serta adanya pengolahan sampah organik menjadi pupuk melalui proses komposting dan pembuatan pupuk organik plus yakni pencampuran kompos dengan pupuk kandang.

Apa saja yang telah dimiliki TPA ini selain penghasil energi alternatif?

TPA ini juga menjadi tempat Laboratorium Pengembangan dan Penerapan Teknologi Persampahan sekaligus sebagai objek wisata edukatif. TPa ini setidaknya menerima sampah dari 87 TPS yang ada di daerah Malang. Dengan sistem sanitary Landfill, tidak ada tumpukan sampah yang menggunung. Beitu sampah datang, ada yang langsung dimasukkan dalam lubang timbun sedalam 1,2 meter yang sudah dipasang alat pelengkap gas metan, pipa pengalir air lindi, sehingga semakin sampah menumpuk semakin banyak gas yang dihasilkan tanpa merusak keindahan TPA tersebut dan juga memberikan manfaat yang sangat signifikan bagi masyarakat sekitar.

Tempat pembuangan akhir Talangagung merupakan salah satu TPA yang paling terkenal dari beberapa TPA di eluruh Indonesia, karena selain beperan sebagai tempat pendaurulangan sampah, TPA ini juga menyediakan taman edukasi berwawasan lingkungan asri. Hal ini mematahkan anggapan masyarakat selama ini bahwa setiap TPA merupakan tempat yang bau, kotor, menjijikan, sarang penyakit dan lain sebagainya.

Dengan adanya TPA ini justru menjadi solusi bagi penanganan masalah sampah yang menjadi sumber bencana bila tidak jeli dalam mengelolanya. Karena ternyata gas metana yang ada di tumpukan sampah yang membusuk apabila dilepas ke udara memiliki daya rusak yang luar biasa. Sebagai gambaran, 1 ton gas metana sebanding dengan 21 ton C02 yang dilepas ke udara. Dari latar belakang ini, akhirnya mendorong Pemerintah Kabupaten Malang untuk melakukan inovasi ‘Waste to Energy’. Secara resmi, TPA ini berdiri tahun 2009 dan berada di area 2.5 hektar. Hingga hari ini, rata-rata TPA ini setiap hari menerima kiriman sampah 125 meter kubik. Konsep ‘Waste to Energy’ mengusung ide memanfaatkan gas metana yang merupakan hasil residu sampah di TPA sebagai energi alternatif untuk masyarakat sekitar lokasi TPA,” tutur Koderi mengakhiri perbincangan. (shan)

Berita Terbaru