Swaranews.com - PT Suparma Tbk memantapkan kinerjanya di tahun 2025.Emiten produsen kertas ini mencatat penjualan bersih senilai Rp 837,8 miliar pada kuartal pertama atau setara dengan 27,9 persen dari target penjualan bersih tahun 2025 sebesar Rp 3 triliyun.Meski demikian, perseroan ini pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2024 memutuskan untuk tidak tidak membagikan dividen tunai kepada para pemegang sahamnya namun diwujudkan dalam investasi penambahan mesin.
Direktur PT Suparma Tbk, Hendro Luhur dalam keterangan tertulis paparan publik perseroan usai RUPST di Surabaya, Selasa (10/6/2025) menjelaskankan, setelah dikurangi pembentukan dana cadangan wajib sebesar Rp 20 miliar, sisa laba bersih tahun berjalan 2024 digunakan untuk memperkuat struktur permodalan perseroan dan untuk investasi yang sebagian besar bertujuan untuk peningkatan kapasitas mesin kertas Suparma.
Baca Juga: Cara VinFast Membantu Pengemudi Indonesia Meningkatkan Pendapatan Melalui Kendaraan Listrik
Menurut Hendro Luhur, pada tahun 2024, perseroan menganggarkan belanja modal senilai US$21,4 juta untuk proyek investasi PM (paper machine) no 11. Anggaran tersebut sudah mencakup mesin kertas utama beserta perlengkapannya, suku cadang, bangunan dan prasarananya. PM 11 tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas terpasang sebesar 27.000 MT atau akan menambah kapasitas produksi tissue sebesar 10-11 persen.
Hendro menyatakan, pada 6 Februari 2025 lalu perseroan telah menandatangani kontrak pembelian mesin utama PM 11 dengan supplier mesin kertas dari Finlandia senilai EUR6,35 juta. "Perseroan berencana menggunakan internal kas sebesar US$5 juta untuk mendanai proyek tersebut, sedangkan sisanya sebesar US$16,4 juta akan didanai oleh bank rekanan perseroan dalam bentuk fasilitas kredit investasi," jelasnya.
Sebelumnya, pada 2023 lalu perseroan telah menganggarkan belanja modal setara dengan US$10 juta untuk proyek investasi steam boiler baru. Hingga akhir tahun 2024, jumlah realisasi anggaran steam boiler yang baru mencapai Rp 129,5 miliar atau setara US$8,2 juta. Suparma menggunakan internal kasnya untuk mendanai keseluruhan proyek tersebut (self financing). Steam boiler ini telah berproduksi komersial pada Januari 2025.
"Steam boiler yang baru akan lebih ramah lingkungan karena ditunjang dengan spesifikasi penggunaan bahan baku batu bara sebesar sekitar 22% atau sekitar 58% lebih rendah dibandingkan steam boiler Suparma yang sudah ada, serta sisanya akan memanfaatkan sekitar 60% sludge dan sekitar 18% limbah plastik dan limbah kayu untuk diubah menjadi energi panas," papar Hendro Luhur.
Dengan penambahan mesin produksi tisu tersebut, lanjut Hendro, perseroan akan mampu mengedangkan sayapnya, dimana selama ini produk tisunya lebih dominan di segmen hotel, restoran dan kafe (Horeka) serta beberapa ritel modern.
"Animo konsumen terhadap produk tisu merek Plenty dan See-U milik perseroan cukup besar. Jadi dengan penambahan mesin produksi, diharapkan akan menjangkau pasar yang lebih luas," tegasnya.
Baca Juga: BYD Tech Culture Fest 2026 Melanjutkan Perjalanan Elektrifikasidi Sirabaya
Selain kertas tisu, selama ini Suparma memproduksi beragam kertas, yakni duplex, laminated wrapping kraft (LWK) atau kertas bungkus cap Gajah, dan tisu towel.
Sementara itu berdasarkan laporan keuangan perseroan, sepanjang tahun 2024 berhasil membukukan pertumbuhan penjualan bersih 2,7% menjadi sebesar Rp 2,729 triliun. Pertumbuhan tersebut disebabkan naiknya kuantitas penjualan Suparma sebesar 4,1% mencapai 229,4 ribu MT dimana Kraft dan Tissue menyumbang pertumbuhan kuantitas penjualan masing-masing sebesar 7,2�n 5,2%. Sedangkan kuantitas penjualan Duplex relatif tidak mengalami perubahan.
Menurut Hendro, pada tahun 2024, beban pokok penjualan mengalami kenaikan 5,9% dibandingkan beban pokok penjualan tahun 2023 terutama disebabkan oleh kenaikan harga beli rata-rata bahan baku pulp sebesar 11%. Kenaikan beban pokok penjualan yang melebihi kenaikan penjualan menyebabkan Suparma membukukan penurunan laba kotor sebesar 12,3�ri semula Rp 470,6 miliar di tahun 2023 menjadi Rp 412,8 miliar di tahun 2024, sehingga marjin laba kotor tahun 2024 mengalami penurunan menjadi 15,1�ri semula 17,7% di tahun 2023.
"Pada tahun 2024, beban penjualan mengalami kenaikan sebesar 1,8% yang terutama disebabkan oleh naiknya beban ekspor dan pengangkutan sebesar 2,1%. Sedangkan beban umum dan administrasi mengalami sedikit penurunan 0,5% yang terutama disebabkan oleh menurunnya perbaikan dan pemeliharaan sebesar 36,7%," ungkapnya.
Baca Juga: Diplomasi Kuliner di Jantung Sydney, Mantan Wapres KH Ma'ruf Amin Resmikan Pandawa Warung Kopi Halal
Suparma membukukan rugi selisih kurs sebesar Rp 29,5 miliar akibat dari dampak melemahnya nilai tukar Rupiah, hal ini menyebabkan penurunan laba sebelum taksiran beban pajak dan laba tahun berjalan Suparma masing-masing sebesar 43,5�n 41,3% atau masing-masing menjadi sebesar Rp 134,4 miliar dan Rp 104,8 miliar.
Sementara. Kuantitas penjualan kertas Suparma tercatat sebesar 69.595 MT atau setara dengan 26,9�ri target kuantitas penjualan produk kertas tahun 2025 yang sebesar 258.600 MT. Sedangkan untuk hasil produksi kertas Suparma pada periode empat bulan tahun 2025 sebesar 72.475 MT atau setara dengan 32,1�ri target produksi kertas tahun 2025 yang sebesar 225.800 MT. (Sha)
Editor : redaksi