Masyarakat Dayak Kalteng Anugerahi Grace Evi Ekawati Gelar Kehormatan Ibu Segala Bangsa

Reporter : Amar
Mama Evi saat mendapat ucapan selamat atas gelar kehormatan yang diterimanya. (Tim)

Swaranews.com – Sosok Grace Evi Ekawati kembali mempertegas perannya sebagai simbol persatuan antar-etnis di Jawa Timur. Setelah konsisten merangkul berbagai komunitas kedaerahan, perempuan yang akrab disapa Mama Evi ini resmi menerima penghormatan tertinggi dari masyarakat Dayak Kalimantan Tengah (Kalteng) melalui prosesi adat khidmat di Surabaya, Minggu (12/4/2026).

Ketua DPD PSI Surabaya sekaligus Ketua Umum Perbasi Jatim tersebut kini resmi menyandang gelar kehormatan dari dua suku Dayak terbesar, yakni Suku Ngaju dan Suku Maanyan.

Baca juga: Anggota DPRD Surabaya Desak Polisi Usut Tuntas Kasus Penganiayaan Siswa SMKN hingha Tewas

Ketua Panitia Penyelenggara, Thomas A. Tanjung, S.Hut., MM., menyatakan bahwa penganugerahan ini merupakan apresiasi atas kontribusi nyata Mama Evi di bidang sosial. Dedikasinya dalam menyatukan berbagai suku di Surabaya membuatnya layak dijuluki sebagai "Ibu Segala Bangsa".

"Kami menyematkan gelar ini karena kontribusinya yang luar biasa. Beliau memiliki visi besar sebagai Ketua Umum Persatuan Etnis dan Suku untuk menyatukan seluruh elemen bangsa di tengah keberagaman," ujar Thomas.

Lebih lanjut, Thomas memuji gagasan Mama Evi yang kerap menginisiasi perayaan lintas agama dan budaya secara bersama-sama, seperti Halal Bihalal dan Paskah, sebagai manifestasi nyata dari semangat toleransi.

Ketua HWKTS, Kalmante Tibu, menjelaskan bahwa gelar yang diberikan bukan sekadar simbolis, melainkan memiliki makna filosofis yang mendalam dalam tradisi Dayak.

Indu Ita (Bahasa Ngaju): Bermakna Ibu Kita.

Baca juga: DPRD Surabaya Soroti Pembangunan Infrastruktur dan Akurasi Data Bansos di Surabaya Barat

Ine Takam (Suku Maanyan): Bermakna Ibu bagi orang banyak atau Ibu kita semua.

"Gelar ini sangat selaras dengan julukan 'Ibu Segala Bangsa'. Kami bangga mengangkat beliau sebagai bagian dari keluarga besar kami," ungkap Kalmante.

Menanggapi pemberian gelar tersebut, Grace Evi Ekawati menegaskan bahwa amanah ini adalah panggilan untuk terus hadir di tengah masyarakat. Baginya, kerukunan bukan sekadar deretan angka statistik, melainkan tindakan nyata yang dapat dirasakan manfaatnya.

Baca juga: DPRD Surabaya Minta Pemkot Gencarkan Sosialisasi Perlindungan Keluarga untuk Mencegah Terjadinya Perdagangan Manusia

"Menjadi ketua bukan cuma soal statistik, tapi bagaimana terjun langsung menjaga kerukunan. Bisa diterima oleh semua kalangan adalah sebuah kehormatan yang luar biasa bagi saya," tutur Mama Evi.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak meninggalkan akar budaya. Menurutnya, kelestarian adat istiadat, termasuk budaya Dayak, merupakan kekayaan nasional yang harus dijaga demi keutuhan NKRI.

"Tugas saya adalah memastikan kehadiran saya bisa menjadi perekat dan pendamai. Kelestarian adat adalah kekayaan Indonesia yang harus kita jaga bersama," tegasnya menutup sesi wawancara. (Mar)

Editor : redaksi

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru