Swaranews.com - Nama Sarang Musa dikenal dalam cerita masyarakat Kota Balikpapan sebagai sosok tokoh lokal yang pertama kali menemukan titik minyak di kota Balikpapan pada akhir abad ke-19. Peristiwa itu beriringan dengan masuknya Bataafsche Petroleum Maatschappij pada 1897 dan pengeboran yang melahirkan Sumur minyak Mathilda, yang menjadi tonggak awal yang mengantarkan Kota Balikpapan bisa dijuluki sebagai kota minyak.
Dari garis keturunan itulah lahir Dhipa Satwika Oey. Kini, ia mengemban amanah sebagai Ketua Bidang Politik Dewan Pimpinan Pusat GMNI. Jika kakek buyutnya dikenal dan dikenang sebagai bagian dari awal sejarah energi di tanah Balikpapan, Dhipa lebih memilih hadir dalam babak perjuangan yang berbeda, yakni memastikan arah politik tetap berpihak kepada rakyat.
Baca Juga: FGD Eks GMNI Pecinta Buku Dorong Pemberdayaan SDM dan SDA Berbasis Pancasila
Bagi Dhipa, sejarah keluarga bukan sekadar kebanggaan, melainkan pengingat tanggung jawab.
"Sejarah mengajarkan saya bahwa kekayaan alam tidak pernah berdiri sendiri. Ada orang yang menjaga, ada rakyat yang menjaga, ada tanah yang diwariskan, dan ada tanggung jawab untuk memastikan hasilnya harus kembali kepada masyarakat. Politik harus menjadi alat perjuangan, bukan alat kekuasaan,” ujar Dhipa, Kamis (19/2/2026).
Baca Juga: GMNI Surabaya Raya Dukung Penuh Langkah Kejati Jatim Kawal Kasus Pengusiran Paksa
Ia menambahkan bahwa pembangunan dan pengelolaan sumber daya tidak boleh menjauh dari prinsip keadilan sosial.
“Kalau Balikpapan bisa dikenal dunia karena minyaknya, maka hari ini tugas kita memastikan rakyatnya juga dikenal karena kesejahteraannya. Negara harus hadir, bukan hanya mengambil, tetapi melindungi dan menyejahterakan,” ujarnya.
Baca Juga: SCWI Ajak Generasi Muda Bangun Fondasi Bangsa Bersih dan Berintegritas
Kini, melalui kepemimpinannya di skala nasional, Dhipa Satwika Oey membawa semangat itu ke tingkat nasional, yakni mengawal arah kebijakan agar tetap berpijak pada kepentingan rakyat dan cita-cita keadilan sosial. (Mar(
Editor : redaksi