Pelayanan Kesehatan di Indonesia Jauh dari kata Layak ?

avatar swaranews.com

Swaranews.com - Pelayanan kesehatan merupakan tempat yang sangat dibutuhkan oleh semua kalangan masyarakat. Hampir semua orang tidak tergantung usia dan tingkat sosial yang menyadari bahwa pentingnya kesehatan akan datang memeriksakan kesehatannya di tempat penyelenggara medis, seperti rumah sakit, puskesmas, klinik, dokter, perawat, bidan dan petugas medis lainnya.

Saat ini, mutu pelayanan kesehatan di Indonesia telah diakui secara internasional. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya sertifikat akreditasi “the international society for quality in health care (ISQua)”.

Baca Juga: Komisi D DPRD Surabaya Sidak Posga Wiyung Pastikan Hak Kesehatan Warga

Penyediaan layanan kesehatan di Indonesia terbagi sesuai dengan asuransi swasta bagi mereka yang membayarnya tetapi untuk keselamatan pasien belum menjadi budaya yang harus benar-benar diperhatikan oleh pihak penyelenggara medis.

Di dalam UU Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan sudah jelas menyatakan bahwa penyelenggara medis saat ini harus mengutamakan keselamatan pasien di atas kepentingan yang lain. Namun nyatanya penyelenggara medis di Indonesia hanya bisa mengobati sedangkan penyelenggara medis di luar negeri bisa menyembuhkan dengan biaya yang dibilang jauh berbeda dengan Indonesia dan jarak tempuh yang jauh tetapi pasti ada hasilnya.

Ditinjau dari komedian Kiky Saputri beberapa waktu lalu yang menjadi sorotan karena curhatannya mengenai pelayanan kesehatan di dalam dan luar negeri.

Kiky Saputri bercerita bahwa mertuanya mendapatkan diagnosa berbeda pada saat di periksa oleh seorang dokter di Indonesia dan Singapura.

Menyikapi curhatan Kiky Saputri tersebut, Kementerian Kesehatan RI angkat suara mengenai perbandingan kualitas pelayanan kesehatan di dalam dan luar negeri.

Menurutnya, kasus yang dialami Kiky Saputri tidak bisa di samaratakan. Kualitas tenaga kesehatan di Indonesia tidak kalah dengan tenaga kesehatan yang ada di luar negeri. SDM kita pun tidak kalah tetapi kita tidak bisa apple to apple untuk membandingkan karena ini sangat kompleks. Namun, jika dilihat dari segi ilmunya kurang lebih juga sama.


Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab mengapa budaya keselamatan pasien atau pelayanan kesehatan di Indonesia dapat dikatakan belum benar-benar layak dan perlu diperhatikan.

Baca Juga: Dari Lapangan Kantor Buoati, 927 TPK Satukan Langkah Wujudkan Jeneponto Bebas Stunting

Pertama, rendahnya tingkat kepedulian petugas kesehatan terhadap pasien. Hal ini bisa dilihat melalui kejadian diskriminasi yang dialami pasien terutama dari masyarakat yang kurang mampu.

Kedua, beban kerja petugas kesehatan yang kurang bertanggung jawab terkait pelayanan.

Ketiga, masih ditemukan petugas kesehatan yang hanya berpikir untuk mencari keuntungan materi tanpa memperdulikan keselamatan pasien.

Keempat, lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh dinas kesehatan terhadap para petugas kesehatan.

Keempat hal tersebut setidaknya tidak menjadi penghalang untuk terwujudnya keselamatan pasien di setiap penyelenggara kesehatan.

Baca Juga: Evaluasi Idul Adha 2026, Keamanan Daging Kurban Terjaga Melalui Pengawasan di 296 Lokasi

Jika hal ini tidak segera terselesaikan, kasus-kasus yang mengancam keselamatan pasien akan terus terjadi sehingga banyak masyarakat yang memilih untuk pengobatan di luar negeri.
Dapat disimpulkan bahwa, perlu upaya yang maksimal untuk mewujudkan budaya keselamatan pasien dan perlu ditingkatkan kesadaran para tenaga medis tentang pentingnya menerapkan budaya keselamatan terhadap pasien dalam tindakan pelayanan kesehatan tanpa memandang ras untuk menciptakan mutu pelayanan yang diharapkan.

Dengan meningkatkan kepedulian terhadap pasien, maka dengan mudah budaya keselamatan pasien bisa dijalankan.

*Mahasiswi Ilmu Administrasi Unmuh Sidoarjo.

 

Berita Terbaru