Swaranews.com - Divisi Dilan Milea (Digital Government Di Era Millenial) Himpunan Mahasiswa Prodi Administrasi Publik (HIMMAPIK), Universitas Muhammadiyah Sidoarjo kembali menyelenggarakan Forum Group Discussion (FGD) dengan tema sektor pariwisata yang berada di Kabupaten Sidoarjo.
Berjudul "Pengembangan Pariwisata Lokal Yang Berkelanjutan" yang diselenggarakan di Uwu Coffe Shop Tanggulangin tersebut diikuti oleh seluruh anggota Himmapik yang terdiri dari 33 orang.
Baca Juga: Surabaya Hadirkan Diskon Wisata: Tiket Cuma Rp733 Sepanjang Mei
Didasari dengan peningkatan kualitas sektor pariwisata lokal yang ada di Kota Sidoarjo ini sangat membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, khususnya Dinas Pariwisata Kota Sidoarjo. Di era millenial ini, tempat pariwisata tentunya akan dikunjungi oleh para wisatawan terutama bagi pemuda yang gemar mengambil gambar ataupun hanya berkunjung.
Sekar Arum selaku ketua pelaksana dalam kegiatan ini mengambil objek wisata diantaranya, Museum Mpu Tantular, Wisata Bahari Tlocor, Pulau Lusi, dan Wisata Lumpur Lapindo.
"Kurangnya peran pemerintah Sidoarjo terutama Dinas Pariwisata sekitar untuk pemberdayaan tempat wisata tersebut sehingga menyebabkan sepi pengunjung," ujarnya, Jum'at (2/6/2023).
Sekar Arum juga berharap dengan adanya FGD ini pemerintah Sidoarjo bisa menampung saran dari Himmapik.
"Saya memang bukan warga asli Sidoarjo, tetapi melihat kondisi Museum Mpu Tantular yang tidak terawat dan kumuh ini pastinya tidak nyaman bagi saya sendiri apalagi bagi orang lain yang ingin berkunjung. Padahal tempatnya bagus dan banyak sekali pengetahuan yang ada di dalamnya, tempatnya juga sangat strategis. Apalagi lumpur lapindo yang katanya akan dibangun tempat wisata. Bagi saya hal itu tidak etis karena itu tempat bencana tidak sepatutnya dijadikan tempat wisata," paparnya.
Nanda Dita selaku ketua Himmapik juga berpendapat bahwa wisata lokal yang ada di Sidoarjo ini sebenarnya banyak tetapi banyak pengunjung yang memilih untuk berkunjung ke Kota Surabaya dibandingkan Kota Sidoarjo sendiri.
Baca Juga: Perang Bandeng dan Urang dalam Besutan di Sidoarjo
Menurutnya, pengelolaan tempat wisata dan kesadaran akan peran serta tugas dari Duta Pariwisata Kabupaten Sidoarjo ini sangat berpengaruh sehingga membuat tempat tersebut tidak menarik untuk dikunjungi karena tempatnya yang kurang diperhatikan dari segi manapun.
"Fasilitas yang tidak memadai, kebersihan tempat yang kurang diperhatikan, dan pengelolaan tempatnya mungkin bisa di relokasi lagi untuk daya tarik pengunjung. Oleh karena itu, banyak masyarakat Sidoarjo yang lebih memilih mengunjungi sektor pariwisata yang ada di Surabaya. Kita sebagai pemuda sebenarnya mau untuk berkunjung di Kota sendiri agar tidak perlu jauh-jauh untuk ke Surabaya. Seharusnya sebagai Dinas Pariwisata sadar akan hal tersebut, sebagai pengelola seharusnya juga bisa memaksimalkan sektor wisata yang ada untuk di relokasi kembali sesuai dengan perkembangan zaman," urai Nanda.
Dirinya menyampaikan, Duta Pariwisata seharusnya hadir untuk ikut mengelola sektor pariwisata yang ada agar tempat pariwisata yang ada di Sidoarjo ini bisa berkembang dan menjadi daya tarik bagi para wisatawan terutama para pemuda.
Pada akhir sesi, Sekar Arum berharap pada anggota Himmapik untuk sadar akan sektor pariwisata lokal yang ada di Kota Sidoarjo ini. Hal tersebut juga memerlukan peran dari Pemerintah setempat.
Baca Juga: Komunitas Guru Penulis Sidoarjo (KGPS) Marhaban Berbagi Merenda Kasih Bersama Anak Panti Asuhan
"Diskusi sangat pecah dengan tema tersebut. Dinas Pariwisata Kota Sidoarjo diharapkan bisa lebih mengembangkan sektor wisata lokal untuk mengubah kembali tatanan tempat wisata dan membagi tugas agar mereka fokus untuk pengembangannya." kata Nanda Dita.
Seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia tentang kepariwisataan, penyelenggaraan kepariwisataan dilaksanakan berdasarkan atas manfaat, usaha bersama dan kekeluargaan, adil dan merata, berkehidupan dalam keseimbangan, dan kepercayaan pada diri sendiri.
Hal yang paling mendasar sebagai pengelola tempat wisata adalah harus bisa menyesuaikan zaman, merealisasikan lingkungan millenial, serta mempunyai berbagai konsep agar sektor wisata dapat berkembang dengan baik.
"Dari diskusi ini kita sangat berharap pada pemerintah setempat terutama dari Dinas Pariwisata untuk terus memperhatikan tempat-tempat wisata yang ada di Sidoarjo ini. Kalau bisa juga Duta Pariwisata bisa menggunakan previlage dengan baik bukan hanya untuk gaya saja. Perlunya revitalisasi, relokasi, modernisasi sesuai perkembangan zaman. Banyak pertanyaan adanya Duta Pariwisata buat apa jika tempat wisata di Sidoarjo ini kurang maksimal. Diharapkan kedepannya tempat pariwisata lokal di Sidoarjo ini dapat berkembang dengan baik." ujar Farah Rifki selaku moderator pada kegiatan ini sekaligus menutup kegiatan FGD ini. (ris)
Editor : redaksi