Swaranews.com - BICARA pendidikan tak terlepas bicara manusia. Selama ada manusia pasti butuh pendidikan. _Tanpa pendidikan formal, apakah manusia bisa hidup? Bisa, mereka akan belajar dari lingkungannya. Terserah di lingkungan mana. Bisa lingkungan kota, desa, gunung, hutan, dan sebagainya. Bentuknya sesuai lingkungan masing-masing. _Pendidikan. Di sini. Pendidikan legal. Ada menterinya. Menjalankan tujuan pendidikan tertuang dalam sistem pendidikan nasional.
Core (inti) pendidikan kita masih menggunakan taksonomi Bloom : afektif, kognitif, psikomotorik. Budaya Jawa (Ki Hajar Dewantoro) menyebut : cipto, roso, dan karso.
Baca Juga: KPPRA Indonesia Apresiasi Pelaksanaan MPLS di Kota Surabaya
Manusia yang terdiri jasmani dan rohani itu, agar terbentuk baik, mengunakan core pendidikan milik Bloom, atau Ki Hajar. Maka, di perguruan tinggi juga diharuskan menjalankan tri dharma (pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat).
Itu sesuai bibit yang ada pada manusia, memiliki bibit : daya hidup, daya nalar, dan daya qolbu. Tiga hal itu dibentuk agar menjadi manusia utuh lahir batin.
Wilayahpendidikan di situ, membentuk manusia secara alami berilmu berkarakter lahir batin.
Pendidikan bukan mendidik manusia menjadi liar.
Core manusia berbeda dengan hewan dan lainnya. Manusia makhluk hidup bebeda dengan benda mati.
Beda manusia dengan hewan. Beda manusia dengar motor go-jek dan benda mati lainnya. Core berbeda.
Contoh : Hewan, sapi untuk tenaga grabak nyinggal/garu (ngerjakan tanah pertanian). Kalau sapi harus belok kiri bilang her, kalau hak sapi belok kanan. Bilang go sambil mekek (narik) tampar (pengikat) sapi maka sapi akan berhenti. His atau cak atau hiscak sambil mengibaskan tampar/tambang sapi maka sapi akan berjalan. Itulah core sapi, hampir sama dengan Kuda. _Beda, sapi dengan hewan lain. Sangat jauh beda dengan core pendidikan manusia.
Maka, dalam pendidikan legal. Untuk mencapai core pendidikan manusia dibuatlah :
1. Guru (menguasai ilmu pendidikan)
2. Kurikulum (materi pelajaran tertata)
3. Stategi belajar mengajar (pengajaran sisesuaikan usia peserta didik)
4. Metode pembelajaran (cara pengajar, materi mudah ditangkap peserta didik)
5. Media pembelajaran (alat pembelajaran, memudahkan peserta didik mengerti, disesuaikan, termasuk media daring-on line).
Pendidikan manusia (siswa) digerakkan oleh guru. Arahnya membentuk manusia sesuai keilmuannya.
Adakahyang bisa mengganti teori Bloom : afektif, kognitif dan psikomotorik?. Atau, adakah pengganti teori : cipto, roso, dan karso?. Sampai saat ini belum ada....teori mereka tetap berlaku.
Baca Juga: Siswa Baru Dibekali Literasi Digital, Antinarkoba, hingga Cek Kesehatan Gratis
Walau UNESCO memiliki 4 pilar pendidikan : learning to know (belajar ilmu pengetahuan), learning to do (belajar berbuat/bekerja), learning to be (belajar tahu dirinya sendiri), learning to live together (belajar bersama-sama hidup). Arah itu adalah membetuk manusia seutuhnya dari segi afektif, kognitif, dan psikomotorik.
Kemudian, dibuat POP (program organisasi penggerak). Jelas penggerak pendidikan (siswa) adalah "guru". Guru yang berilmu keguruan. Guru yang mampu mendidik manusia.
Merekaguru. Salah satu jenis guru. Mereka "guru honorer". Guru yang sampai kini ada yang statusnya belum terurus. Mereka penggerak atau mendidik murid-muridnya. Nyata.
Sebutanguru honorer. Sama guru bantu. Juga sama dengan guru sukuwan. Dia asli guru. Hanya beda gaji dengan guru tetap.
Guru honorer ada yang tak terurus. Sudah terlanjur direkrut menjadi guru honorer, saat tak mampu mengangkat guru. Kerja guru honorer sama juga dengan guru.
Dalammembentuk manusia murid atau pendidikan legal. POP di bagian mana? Di bagian apa?
Apakah sekadar proyek yang harus ada surat pertanggung jawab (spj) keuangan? Sesuai aturan?. Setelah itu bubar. Proyek. Tentu, harapannya tidak.
Lembaga pendidikan harus ada. Pendidikan harus ada. Tertata. Untuk membentuk manusia terdidik.
MajelisPendidikan Dasar dan Menengah PP Muhammadiyah. Mundur dari POP. _Tetap akan menggerakkan pendidikan. Sebelum kemerdekaan sudah mengggerakan pendidikan.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Waspadai Paparan Ideologi Ekstrem, Orang Tua Diminta Lebih Peduli
Begitu pula Lembaga Pendidikan Ma'arif PBNU. Juga keluar dari POP. Organisai yang mempunyai sejarah panjang menggerakkan pendidikan. Disusul oleh PB PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), keluar dari POP. Mereka tetap peduli pendidikan.
Ada apa? Mereka yang tahu. Tahu lengkap, walau tak terungkap. Sebenarnya.
Semogasemua guru diangkat. Jangan sampai kekurangan guru. Guru berkualitas.
Pendidikan di Indonesia punya historis (sejarah). Tidak un-historis. Tuntaskan kebutuhan pendikan.
Pendidikantidak butuh bombastis. Apalagi hanya program bombastis. Pendidikan butuh anak-anak kita menjadi manusia seutuhnya. Tentu ada ilmunya.
Memang beda membentuk benda mati dengan benda hidup - manusia.
Salamhormat, semoga semua sehat selalu...aamiin.
*) Guru besar UNIPA Adi Buana. Managing Director Apenso. Penasehat Swaranews. (GeSa)
Editor : redaksi