Swearanews.com – Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PK PMII) Perjuangan Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) menyampaikan ucapan selamat sekaligus mengajak seluruh pihak untuk menjadikan momentum ini sebagai ajang refleksi terhadap kondisi pendidikan, khususnya di Kota Surabaya.
Ketua Komisariat PK PMII Perjuangan Unitomo, Noval Aqimuddin, menyampaikan bahwa Hari Pendidikan Nasional harus menjadi titik balik bagi seluruh pemangku kepentingan, khususnya pemerintah dan instansi pendidikan di Surabaya, untuk lebih serius menyoroti persoalan pendidikan yang terjadi di lapangan.
Baca Juga: Dispendik Pastikan MPLS Berjalan Kondusif dan Ramah Anak
“Selamat Hari Pendidikan Nasional. Namun momen ini juga harus membuka mata kita semua bahwa pendidikan di Surabaya masih menghadapi tantangan serius. Masih banyak siswa dan siswi yang membolos dan perhatian terhadap mereka dirasa masih kurang. Ini bukan hanya tanggung jawab sekolah, tapi tanggung jawab kita semua sebagai masyarakat,” ujarnya, Jum'at (2/5/2025) di Nginden Semolo, Surabaya.
Ketua II PK PMII Perjuangan Unitomo, Soleh, turut menyoroti persoalan kenakalan remaja yang semakin marak di lingkungan sekolah, mulai dari tawuran antar pelajar hingga kasus bullying. Menurutnya, hal ini perlu segera dievaluasi secara menyeluruh oleh pihak sekolah dan instansi terkait.
Baca Juga: KPPRA Indonesia Apresiasi Pelaksanaan MPLS di Kota Surabaya
“Kami menegaskan bahwa ini bukan masalah sepele. Banyak pelajar hari ini terlibat dalam tawuran, bullying, dan perilaku menyimpang lainnya. Ini harus menjadi perhatian serius bagi seluruh sekolah di Surabaya," terangnya.
Soleh menyebutkan bahwa edukasi moral, pembinaan karakter, serta pendekatan psikologis harus diperkuat. Dunia pendidikan harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siswa untuk berkembang, bukan sebaliknya.
Baca Juga: Siswa Baru Dibekali Literasi Digital, Antinarkoba, hingga Cek Kesehatan Gratis
PK PMII Perjuangan Unitomo menyerukan kepada semua pihak, baik pemerintah, tenaga pendidik, orang tua, dan masyarakat untuk bersinergi dalam membenahi sistem pendidikan dan memastikan setiap anak mendapatkan haknya.
"Hak untuk tumbuh, belajar, dan berkembang dalam lingkungan yang sehat dan mendukung," tutup Soleh. (Mar)
Editor : amar