Swaranews.com - Ketua Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Perjuangan Universitas dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya, Noval Aqimudin menyerukan perlindungan kepada masyarakat. Hal itu disampaikannya menindak lanjuti langkah Pemkot Surabaya dalam menertibkan juru parkir (jukir) liar di toko modern.
"Jangan samakanratakan Juru Parkir dengan mafia," serunya, Sabtu (14/6/2025) di Nginden Semolo, Surabaya.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha
Noval mengatakan, menegakkan perda, ya. Tetapi jangan korbankan rakyat kecil. Dia menyebutkan bahwa seruan ini adalah suara dari akar rumput, yang disampaikannya kepada sahabat-sahabat PMII Perjuangan Unitomo.
"Kita semua ingin Surabaya tertib. Kita semua ingin pungli diberantas.Tapi kita juga harus jujur: Penegakan hukum tanpa keadilan sosial hanya akan menjadi represi terselubung," ungkapnya.
Noval menegaskan bahwa penertiban parkir liar yang diklaim sebagai wujud ketegasan. Siapa yang ditertibkan? Siapa yang dibiarkan? Dan siapa yang benar-benar menikmati hasil dari sistem ini?
"Untuk sahabat-sahabat PMII Perjuangan Unitomo, Kita adalah mahasiswa. Kita adalah anak kandung reformasi. Kita diwarisi tradisi membela kaum mustadh’afin yang lemah, yang tertindas, yang terpinggirkan oleh kekuasaan dan kapital," ujarnya.
Dia menegaskan bahwa pihaknya tidak bisa berdiam diri melihat juru parkir yang selama ini menggantungkan hidupnya di jalanan, kini dicap liar, diusir, tanpa diberi opsi transisi, tanpa perlindungan sosial.
"Apakah ini wajah keadilan? Kita tidak membela pungli. Tapi kita menolak negara yang hanya berani menertibkan yang kecil, sementara yang besar tetap kebal dan leluasa!," sergah Noval.
Dia menyebutkan bahwa pihaknya tahu, mafia parkir itu nyata. Tapi jangan samakan jukir rakyat kecil dengan jejaring rente kekuasaan yang diam-diam ikut bermain.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Tertibkan 63 Titik Parkir Liar dan Non-Digital
"Tuntutan kami jelas. Tertibkan parkir liar, tapi lindungi juru parkir kecil sebagai bagian dari warga kota ini. Bangun sistem parkir yang adil, transparan, dan tidak dikuasai segelintir kepentingan," beber Noval.
Dia menyatakan, hapus praktik pungli dan rente, dari atas hingga ke bawah. Libatkan masyarakat dalam solusi, bukan sekadar jadi objek penertiban.
"Sahabat-sahabat PMII, kita bukan mahasiswa biasa. Kita adalah pelanjut semangat kritis dan pembela kebenaran! Bukan pengekor kekuasaan," tutupnya. (Mar)
Baca Juga: Penkot Surabaya Tertibkan Lahan Parkir dan Perketat Perizinan
Editor : redaksi