Program "Kamis Mlipis" di Surabaya: Upaya Melestarikan Budaya Lokal dan Mendukung Ekonomi Kreatif

avatar amar
Anggota KomisiD DPRD Kota Surabaya, Abdul Malik. (Amar)
Anggota KomisiD DPRD Kota Surabaya, Abdul Malik. (Amar)

Swaranews.com – Inisiatif Pemerintah Kota Surabaya melalui program “Kamis Mlipis” mendapat dukungan penuh dari Komisi D DPRD Surabaya. Program ini mewajibkan penggunaan Bahasa Jawa setiap hari Kamis di lingkungan sekolah, dari tingkat TK hingga SMP, sebagai upaya revitalisasi budaya lokal.


Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Abdul Malik, menyatakan dukungannya terhadap program yang diatur dalam Peraturan Wali Kota Surabaya No. 17 Tahun 2025 ini. Program ini tidak hanya berfokus pada pelestarian bahasa, tetapi juga bertujuan membentuk karakter siswa yang santun.

Baca Juga: Dispendik Pastikan MPLS Berjalan Kondusif dan Ramah Anak

Malik menambahkan, agar program ini lebih efektif, perlu adanya dukungan visual dengan mewajibkan penggunaan seragam adat atau pakaian tradisional setiap hari Kamis. Menurutnya, perpaduan antara bahasa dan busana adat akan memperkuat identitas budaya Jawa di kalangan generasi muda.

Seragam Adat sebagai Penguat Pendidikan Karakter dan Ekonomi Lokal

Lebih dari sekadar simbol, penggunaan seragam adat juga dianggap sebagai cara untuk memperkaya pendidikan karakter siswa melalui praktik budaya yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Pemkot Surabayq Perluas Kelas Bahasa Inggris Gratis hingga Balai RW dan Rusun

"Langkah ini sejalan dengan Permendikbud Nomor 50 Tahun 2022 yang memperbolehkan penggunaan pakaian adat di sekolah sebagai bagian dari pendidikan karakter," jelas Abdul Malik

Politisi muda dari Fraksi PDI Perjuangan ini juga melihat program tersebut sebagai peluang ekonomi bagi UMKM lokal yang bergerak di bidang busana tradisional. Kebijakan ini dinilai sebagai bentuk keberpihakan pemerintah terhadap sektor ekonomi kreatif.

Baca Juga: Hotline Lapor Cak Eri Terima 87 Aduan Iuran Kampung, Pemkot Tegaskan Wajib Disetujui Lurah

Dengan adanya program “Kamis Mlipis”, Bahasa Jawa—khususnya ragam Krama Inggil—kini kembali mendapat ruang hidup sebagai alat komunikasi sehari-hari, bukan hanya sebagai mata pelajaran.

"Saya berharap, sinergi positif antara pemerintah daerah, legislatif, dan dunia pendidikan ini dapat menghidupkan kembali warisan budaya Jawa yang sempat terpinggirkan di Surabaya," harap Abdul Malik. (Mar)

Berita Terbaru

Peristiwa,

Disdukcapil Genjot IKD

Swaranews.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengapresiasi meningkatnya kesadaran masyarakat dalam memenuhi administrasi kependudukan, baik melalui