Sari Saqati

avatar amar
ilustrasi
ilustrasi

oleh Fahmi Faqih


Swaranews.com - Suatu hari, Sari Saqati, paman dari Al-Imam Junaid, pemuka kaum salih di zamannya, berkata, “Selama tiga puluh tahun aku beristighfar kepada Allah atas satu ucapan _alhamdulillah_ yang pernah aku ucapkan.”

Baca Juga: Dispendik Pastikan MPLS Berjalan Kondusif dan Ramah Anak

Ketika ditanya hal apa yang membuat ia melakukan itu, Syaikh Sari bercerita.

“Ketika terjadi kebakaran besar di Baghdad, seseorang datang memberitahuku bahwa toko milikku selamat. Waktu itulah aku mengucapkan _alhamdulillah_ yang harusnya tidak kuucapkan itu.”

“Kenapa kau katakan _alhamdulillah_ yang harusnya tidak kau ucapkan, wahai Syaikh Sari? Bukankah ucapan _alhamdulillah_ tidak dilarang dalam agama, bahkan ketika terhindar dari suatu musibah, sebagai ungkapan syukur, mengucap _alhamdulillah_ malah dianjurkan?,” tanya salah seorang yang hadir di majlisnya.

Baca Juga: KPPRA Indonesia Apresiasi Pelaksanaan MPLS di Kota Surabaya

“Benar,” jawab Syaikh Sari. “Mengucap _alhamdulillah_ sebagai ucapan syukur karena terhindar dari musibah tidaklah dilarang dalam agama, bahkan dianjurkan. Hanya saja ketika musibah itu menimpa orang banyak, Islam mengajarkan kita untuk tetap mengutamakan adab. Waktu itu, karena merasa senang, aku lupa bahwa ucapan _alhamdulillah_ -ku tidaklah pantas jika terdengar oleh mereka yang tokonya habis terbakar. Beban kesedihan di hati mereka tentunya akan semakin bertambah mendengar ucapan _alhamdulillah_ itu.”

Adab merupakan perkara pokok yang tidak dapat dipisahkan baik hubungannya dengan Tuhan, dengan sesama manusia, bahkan dengan semua ciptaanNya. Dalam kasus Syaikh Sari, ia berpotensi mencederai hak orang lain yang bernasib malang untuk mendapatkan simpati, solidaritas, bahkan pertolongan – terlepas dari persoalan apakah mereka yang tertimba musibah memintanya atau tidak.

Baca Juga: Siswa Baru Dibekali Literasi Digital, Antinarkoba, hingga Cek Kesehatan Gratis

Namun Syaikh Sari adalah Syaikh Sari, manusia yang telah membuktikan ketaqwaannya dengan ilmu, amal, keikhlasan dan akhlak mulia sepanjang hidupnya. Ia mendapat keridlaan Allah. Karenanya, ketika kekeliruan sehalus itu ia lakukan, Allah cepat menyadarkannya. Lalu bagaimana dengan kita, manusia-manusia yang lebih banyak lalai ketimbang ingat ini? Yang lebih sering mengikuti bujuk rayu hawa nafsu ketimbang menolak dan memeranginya?

Tentu kita tidak boleh berputus asa akan rahmat Allah. Selama nafas belum sampai di tenggerokan, pintu pengampunan tetap dibukakan untuk kita. Tapi kita tak boleh menunggu karena kita tidak tahu sampai batas mana perjalanan kita – kapan kematian menjemput kita. []

Berita Terbaru