Swaranews.com - Setiap pagi, Sumardi mengayuh becaknya menembus jalanan di sekitar Kecamatan Mulyorejo, Surabaya. Bertahun-tahun, ia pulang ke rumah dengan dinding rapuh dan atap bocor. Namun, tahun ini, hidupnya berubah. Rumah Sumardi kini sedang direnovasi berkat program “Dandan Omah” dari Pemerintah Kota Surabaya.
Program ini menyasar rumah-rumah tidak layak huni (rutilahu). Tahun ini, sebanyak 2.069 rumah diperbaiki, termasuk milik Sumardi. Sejak diluncurkan oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi pada 2021, program ini telah merenovasi 9.500 rumah.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha
Lebih dari Sekadar Renovasi Fisik
Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Eri Irawan, meninjau langsung renovasi rumah Sumardi. Menurutnya, program ini bukan hanya sekadar perbaikan fisik, tetapi juga upaya mewujudkan keadilan sosial.
"Kita tidak boleh membiarkan ada warga yang tertinggal di tengah pesatnya kemajuan kota. Perbaikan rutilahu ini adalah bentuk keberpihakan nyata, bahwa setiap warga berhak tinggal di rumah yang layak," ujar Eri.
Ia menambahkan, rumah yang layak dengan sirkulasi udara baik dan sanitasi memadai adalah fondasi penting bagi generasi masa depan. "Di rumah-rumah itulah anak-anak dibesarkan, dididik menjadi generasi hebat. Membenahi rutilahu artinya kita sedang berinvestasi pada masa depan kota ini," katanya.
Baca Juga: Wali Kota Eri Cahyadi Turun Langsung ke CFD Taman Bungkul Telusuri Dugaan Pungli PKL
Menggerakkan Ekonomi Lokal
Program "Dandan Omah" juga dirancang untuk menggerakkan ekonomi lokal. Pengerjaannya menggunakan sistem padat karya, memberdayakan warga sekitar melalui kelompok teknis perbaikan rumah (KTPR) di setiap kelurahan.
"APBD kita harus memberi manfaat yang luas. Bukan hanya memperbaiki rumah, tetapi juga menggerakkan ekonomi warga sekitar," jelas Eri. Ia memastikan program ini akan terus berlanjut dan ditingkatkan tahun depan.
Baca Juga: Dispendik Pastikan MPLS Berjalan Kondusif dan Ramah Anak
Harapan untuk Kolaborasi
Eri juga mengajak berbagai pihak, seperti pemerintah pusat, provinsi, BUMN, swasta, dan lembaga zakat, untuk ikut berkontribusi. Masih banyak warga yang menunggu rumahnya diperbaiki.
Di tengah kesibukan kota, di balik keringat pengayuh becak seperti Pak Sumardi, kini ada secercah harapan. Sebuah rumah yang layak, yang menjadi saksi bisu perjalanan hidup dan tempat baru untuk bermimpi lebih tinggi.
Editor : redaksi