Hari Ketiga Santri Jatim Segel Kantor Trans7

avatar amar
Saat tiga legislator Kota Surabaya orasi bela santri, Kyai dan Pesantren.n (Amar)
Saat tiga legislator Kota Surabaya orasi bela santri, Kyai dan Pesantren.n (Amar)

Swaranews.com - Aksi solidaritas yang dilakukan oleh berbagai organisasi santri dan badan otonom Nahdlatu;l Ulama du Jawa Timur, akhirnya mencapai titik puncak dengan menyegel Kantor Trans7 yang terletak di Jalan Yos Sudarso, Surabaya. Sejak hari selasa, (14/10/2025) di depan kantor tersebut memang didatangi oleh para santri dan alumni santri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Bahkan pada hari kedua, masa aksi dari berbagai elemen juga turut melakukan aksi.

Baca Juga: Hotline Warga Jangan Berhenti di Kelueahan, Anas Karno Minta Terhubung hingga RT/RW

Hari ketiga, menjadi istimewa dengan bergabungnya para legislator Kota Surabaya turut hadir dan berorasi menyampaikan kekecewaannya atas framing yang dilakukan stasiun televisi swasta nasional tersebut. Mereka diantaranya Muhaimin, Tubagus Lukman Amin dan Muhammad Saifuddin.

“Mereka tidak pernah turun langsung ke pesantren. Mereka hanya mengambil cupilkan-cuplikan dan mengedit.  Ini membuat hati kita semua terluka. Saya tidak habis pikir, mengapa stasiun televisi nasional sekelas Trans7 bisa melakukan itu. Luar biasa telah memframing jahat terhadap pesantren dan kyai. Kita semua yang berada disini benar-benar terluka. Hati saya menangis bagaimana martabat kyai diinjak-injak,” ujar Tubagus Lukman Amin, Anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya di Jalan Yos Sudarso Surabaya, Kamis (16/10/2025).

Muhaimin yang juga Anggota Komisi A DPRD Surabaya memulai orasinya dengan memekikkan takbir “Allahu Akbar!”.  Dia menegaskan bahwa setelah membaca dan melihat apa yang ditampilkan Trans 7, Dirinya merasa prihatin.

Baca Juga: DPRD Surabaya Minta Lurah hingga OPD Respons Serius Semua Sidak Wali Kota Eri Cahyadi

“Saya kecewa, kami merasakan hal yang sama dengan kalian semua. Melihat apa yang diframing di media sosial oleh Trans7. Hati saya ini robek, Kyai sepuh saya diinjak, diremehkan, telah direndahkan. Bahkan kegiatan-kegiatan santri dibilang diperbudak. Ini luar biasa. Kami, saya beserta kalian semua ini sama bahwa kalau nama santri, kalau nama Kyai di framing jahat dan direndahkan sakit hati saya ini. Maka Saya sudah berkomentar di media massa, di lingkungan dan diantara kami di Komisi A DPRD Surabaya bahwa ini menandakan bahwa Trans7 biadab bagi kita sebagai santri. Mari kita tetap istiqomah membela Kyai, membela pesantren,” paparnya.

Muhaimin juga menyatakan bahwa sejarah sudah membuktikan bahwa negara ini tanpa pesantren dan tanpa para Kyai tanpa para santri tak akan bisa menikmati kemerdekaan. Melalui K.H. Hasyim Asy’ari keluarlah resolusi jihad dalam membela tanah air dan kemerdekaan Republik Indonesia ini. 

Orasi yang tak kalah menggelorakan massa aksi juga diteriakkan oleh Muhammad Saifuddin, Anggota Komisi A DPRD Surabaya. Dia mengajak massa aksi berikrar dengan mengucapkan,

Baca Juga: Perwakilan RT-RW Tambak Wedi Serahkan Surat Permohonan Hearing ke DPRD Surabaya

Kami Santri Indonesia bersumpah bertanah air satu. Tanah air tanpa penindasan.
Kami Santri Indonesia bersumpah berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan.
Kami Santri Indonesia bersumpah berbahasa satu, bahasa kebenaran, bahasa anti penindasan.

“Sahabat-sahabatku sekalian, ingin saya tegaskan bahwa para santri dididik untuk berdikari, Bahkan Kyai Haji Abdurrahman Wahid, mantan presiden Republik Indonesia adalah santri. Jadi kalau Trans7 melakukan penindasan dan penghinaan kepada santri dan pesantren, Jawabnya hanya satu kata lawan!!” Teriak Bang Udin sapaan akrab Muhammad Saifuddin. (Mar)

Berita Terbaru