Swaranews.com - Pernyataan Ketua BEM UGM Tyo Ardianto mengkritisi persoalan MBG secara tajam ramai diperbincangkan publik luas. Keberanian mahasiswa kampus calon pemimpin bangsa di masa depan tersebut seolah menjawab keraguan publik akan kiprah mahasiswa yang belakangan ini dipenuhi aksi demo.
"Suara mahasiswa dari BEM UGM menjadi bukti bahwa mahasiswa menyampaikan intelektual dan daya kritisnya masih ada. Mengkritik kebijakan MBG dengan gaya mahasiswa secara kritis tidak bisa dijadikan dasar pelecehan institusi. MBG yang diganti kepanjangannya menjadi jokes ataupun anekdot "Maling Berkedok Gizi" mengindikasikan ada potensi korupsi di program MBG. Mahasiswa dengan segenap daya kritis idealismenya tidak asal bicara karena mereka intelektual yang tentunya berbasis fakta," ungkap AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal) ketua umum Ormas kebhinekaan, lintas agama, budaya dan tradisi Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB), Sabtu (21/2/2026 di Surabaya.
Dia menjelaskan bahwa mahasiswa seringkali menjadi barometer gejolak yang terjadi di sebuah kebijakan pemerintahanan. Program MBG yang kontroversial di mata masyarakat mendapat respon negatif dari para mahasiswa.
"Sesuai amanah konstitusi anggaran pendidikan 20�ri total APBN. Program MBG yang mengambil anggaran pendidikan itu jelas melanggar konstitusi. Dampaknya jelas kacaunya jaminan beasiswa KIP, PIP, LPDP dan tidak jelasnya gaji guru honorer, serta mangkraknya bangunan sekolah yang rusak butuh perbaikan. Efisiensi yang digembar-gemborkan pemerintah berlaku di kebijakan yang berhubungan pembiayaan masyarakat. Efisiensi seharusnya dilakukan pada gaji dan tunjangan pejabat, penghapusan gaji pensiunan anggota dewan dan biaya perjalanan dinas pejabat," papar Gus Wal.
Dirinya juga menyerukan dukungan kepada adik-adik mahasiswa yang sedang berjuang di garis rakyat. MBG dan potensi korupsi oligarki menjadi fokus untuk dikritisi.
Baca Juga: PNIB: Mahasiswa Itu Pejuang Intwlektual Harapan Bangsa Tidak Terbeli Berapapun Nominalnya
"Untuk kepentingan oligarki maka dibentuklah MBG, namun perlu diingat kata Gratis sesungguhnya sangat menyakitkan rakyat. Semua dana program kebijakan didapat dari uang pajak kita, sudah sewajarnya kembali ke kita. Jangan lagi bohongi rakyat dengan kata kebijakan Gratis kalau ujungnya pajak meroket, penunggak pajak yang tidak mampu diburu seperti penjahat. MBG bukan ajang bancakan dan garong menggarong anggaran, aparat penegak hukum jangan tutup mata hanya karena ini dekat dengan kepentingan kekuasaan" tegas Gus Wal mengonfirmasi pernyataan Ketua BEM UGM Tyo Ardianto.
Gus Wal menyatakan bahwa PNIB mendukung penuh perjuangan adik-adik mahasiswa dimanapun termasuk BEM UGM yang berani memperjuangkan kepentingan rakyat. Jangan pernah takut teror dan intimidasi karena itulah resiko perjuangan mulia.
"Kami bersama kalian demi menyuarakan kegelisahan rakyat yang tidak bisa berbuat apa-apa karena terjebak sistem dan manipulasi. Karena kita bersatu maka Indonesia tetap ada dalam kondisi apapun," tegasnya.
Baca Juga: BEM PTNU Se Nusantara Desak Sudit Independen BGN dan Evaluasi Menyeluruh MBG
Gus Wal menganggap bahwa apa yang dilakukan dan disuarakan oleh Tyo Ardianto bersama BEM UGM, kelompok mahasiswa dan masyarakat lainya dalam mengkritisi MBG sebenarnya hal yang biasa dalam ranah penyamapian kritik dan aspirasi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di dalam negara demokrasi seperti Indonesia ini.
"Sebagai wujud cinta kepedulian terhadap Rakyat, Pemerintah dan Negara," pungkas Gus Wal. (Mar)
Editor : redaksi