Perkuat Soft Power Dewan Pertahanan Nasional Serap Aspirasi Budayawan Surabaya

avatar Amar
Deputi Bidang Geopolitik DPN, Dr. Begi Hersutanto, S.H., M.A. saat menywrah cindera mata kepada Ketua Dewan Kesenian Surabaya, Chrisman Hadi. (Tim)
Deputi Bidang Geopolitik DPN, Dr. Begi Hersutanto, S.H., M.A. saat menywrah cindera mata kepada Ketua Dewan Kesenian Surabaya, Chrisman Hadi. (Tim)

Swaranews.com – Dewan Pertahanan Nasional (DPN) Republik Indonesia melakukan kunjungan kerja strategis ke Dewan Kesenian Surabaya (DKS) di Kompleks Balai Pemuda, Rabu (29/4/2026). Pertemuan ini bertujuan menyerap pandangan para pelaku budaya terkait penguatan identitas nasional di tengah dinamika geopolitik global.

Baca Juga: Culture Night Dimeriahahkan 14 Delegasi Dalam dan Luar Negeri

Kunjungan yang dipimpin oleh Deputi Bidang Geopolitik DPN, Dr. Begi Hersutanto, S.H., M.A., merupakan tindak lanjut dari tugas DPN dalam memberikan rekomendasi kebijakan kepada Presiden RI, khususnya pada dimensi pertahanan yang berbasis kebudayaan.

Dalam diskusi tersebut, Dr. Begi menegaskan bahwa kebudayaan tidak boleh lagi dipandang sebelah mata hanya sebagai ekspresi artistik. Kebudayaan adalah instrumen strategis atau soft power yang menentukan posisi tawar sebuah bangsa di panggung dunia.

"Penting bagi Indonesia untuk menemukan kembali identitas nasional melalui jalan kebudayaan. Ini harus dirancang dan difasilitasi secara sistematis oleh negara. Kita bisa belajar dari fenomena global K-Pop yang sukses karena dukungan kebijakan negara yang terstruktur," ujar Dr. Begi.

Ketua Dewan Kesenian Surabaya, Chrisman Hadi, menyambut baik langkah DPN. Ia menekankan bahwa secara normatif, penguatan budaya telah memiliki payung hukum yang kuat, mulai dari UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan hingga Perpres No. 202 Tahun 2024.

"Indonesia memiliki kekayaan kultural yang luar biasa. DKS siap menjadi mata rantai strategis bagi kebijakan DPN dalam memperkuat pertahanan negara melalui jalur non-militer atau kebudayaan," tegas Chrisman.

Diskusi juga menyoroti isu krusial mengenai krisis identitas. Pegiat aksara Jawa, Taufik Hidayat (Monyong), memberikan refleksi mendalam mengenai pentingnya menjaga aksara sebagai akar bangsa. Menurutnya, ketahanan bangsa-bangsa besar seperti Cina dan Jepang berakar pada keberhasilan mereka mempertahankan aksara aslinya.

Rekomendasi untuk Presiden

Pertemuan ini dihadiri oleh jajaran petinggi DPN, di antaranya:

Baca Juga: Reog Purbaya Surabaya Sabet Tiga Besar Nasional FNRP 2026

Marsma TNI Aminto Senisuka, S.T., M.Eng

Laksma TNI R. Firman Noegraha W., M.Sc.

Kolonel Laut (H/W) Nentin Feriyanti, M.H.

Serta jajaran Tenaga Ahli (TA) lainnya.

Dari pihak budayawan, hadir tokoh-tokoh lintas disiplin seperti Henry Nurcahyo (budayawan Panji), Isa Anshori (pendidikan), Dr. Indar Sabri (akademisi), hingga perwakilan Dewan Kesenian Magetan.

Baca Juga: Pemkot Surabaya Buka Utsawa Dharma Gita 2026, Cetak Generasi Muda Hindu Berkarakter dan Peduli Lingkungan

Gerakan kebudayaan adalah kebutuhan mendesak untuk memperkuat identitas nasional.

DPN akan merumuskan rekomendasi khusus kepada Presiden RI mengenai solusi atas problematika kebangsaan di bidang kebudayaan.

Kebudayaan diposisikan sebagai fondasi sejarah dan arah bangsa di tengah derasnya arus globalisasi.

Kunjungan ini menandai babak baru sinergi antara lembaga pertahanan negara dan akar rumput kebudayaan, memastikan bahwa pertahanan Indonesia tidak hanya kokoh secara fisik, tetapi juga kuat secara jati diri. (Mar)

Berita Terbaru

Peristiwa,

Disdukcapil Genjot IKD

Swaranews.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengapresiasi meningkatnya kesadaran masyarakat dalam memenuhi administrasi kependudukan, baik melalui