Swaranews.com - Terdapat kehawatiran Moeldoko dapat menggusur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dari kursi Ketua Umum Partai Demokrat melalui kongres luar biasa (KLB). Untuk mencegah hal itu, banyak pihak menyarankan AHY menggandeng Gatot Nurmantyo.
Menurut Jamiluddin Ritonga, Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul bahwa .saran tersebut cocok bila Indonesia masih menganut paham otoriter. Di negara otoriter, kekuatan jabatan atau pangkat harus dilawan dengan kekuatan jabatan atau pangkat pula. Jenderal bintang empat harus dilawan jenderal bintang empat juga.
Baca Juga: Partai Demokrat Surabaya Bagikan Setibu Paket Daging Kurban
"Dengan kekuatan yang setimpal, nyali seseorang untuk menggusur orang lain akan kendor. Sebab, peluangnya untuk berhasil akan berkurang. Karena itu, keinginan menggusur orang lain akan diurungkan," ujar Jamiluddin, Kamis (11/2/2021) melalui jaringan ponsel pribadinya
Jamiluddin menyatakan, namun Indonesia saat ini sudah menganut demokrasi. Kekuatan untuk memenangkan pertarungan tidak ditentukan oleh banyaknya bintang dipundaknya. Kekuatan basis massa pendukung akan lebih menentukan.
"Jadi, meskipun AHY hanya berpangkat mayor, namun bila ia didukung mayoritas kader Partai Demokrat, maka Moeldoko yang pernah berbintang empat tidak akan mampu menggusur AHY dari ketua umum Partai Demokrat," papar penulis buku Tipologi Pesan Persuasif ini.
Baca Juga: Penelitian Kesehatan Berujung Sengketa Hutang, Dokter di Surabaya Mengadu ke DPRD
Jamiluddin Ritonga menegaskan, untuk itu, AHY harus mampu menjaga soliditas dan dukungan dari Ketua DPC dan Ketua DPD. Sebab, mereka ini yang punya hak suara dalam pemilihan ketua umum, termasuk untuk meminta KLB. Kalau ini dapat dilakukan AHY, maka tidak mungkin terjadi KLB di Partai Demokrat.
"Infonya, mayoritas Ketua DPD dan Ketua DPC se Indonesia solid mendukung AHY. Hal itu terlihat dari dukungan tertulis kesetiaan DPD dan DPC se Indonesia kepada AHY," sebutnya..
Baca Juga: Targetkan Kejayaan di 2029, Demokrat Surabaya Perkuat Struktur dan Kerja Nyata
Selain itu, para senior Partai Demokraf yang mendukung Moeldoko praktis sudah tidak mengakar di DPD dan DPC. Mereka ini tidak lagi punya pengaruh untuk mengajak DPD dan DPC menggusur AHY. Jamiluddin menyatakan bahwa para senior hanya bisa berteriak melalui media massa dan media sosial. Mereka ini seperti menyiram air di gurun pasir yang tidak membekas.
"Karena itu, celah untuk melakukan KLB tampaknya sudah tertutup. Karena itu, peluang Moeldoko menggusur AHY tampaknya Nyaris tertutup," pungkasnya.(mar)
Editor : redaksi